alexametrics

Trump: Semua Pemimpin Harus Mengutamakan Negaranya

loading...
Trump: Semua Pemimpin Harus Mengutamakan Negaranya
Presiden AS Donald Trump menegaskan pentingnya perdagangan yang adil dalam World Economic Forum 2018 di Davos. Foto/YouTube
A+ A-
DAVOS - Sejak tahun 2000, Presiden Amerika Serikat tidak pernah menghadiri Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss. Kali ini, Presiden AS Donald Trump yang sempat absen tahun lalu, menghadiri WEF dengan menjelaskan kebijakan America First-nya. Trump menarik garis batas antara populisme anti perdagangan bebas dengan perdagangan yang berkeadilan.

Trump memperingatkan negara-negara lain agar tidak mencoba “mengeksploitasi” negara lainnya dengan mengatasnamakan perdagangan. “Amerika Serikat tidak akan lagi menutup mata terhadap praktik perdagangan yang tidak adil. Kita tidak bisa memiliki perdagangan bebas dan terbuka jika beberapa negara mengeksploitasi sistem dengan mengorbankan orang lain,” ujarnya seperti dilansir CNBC, Sabtu (27/1/2018).

Tidak hanya itu, Trump juga mengingatkan pentingnya bagi seorang pemimpin untuk mengutamakan negaranya. Menurut Trump, setiap pemimpin pertama-tama harus membantu warganya dalam mengurus kebutuhan “yang terlupakan”. Namun, kata Trump, kebijakan America First bukan berarti Amerika berjalan sendiri. Melainkan bekerja sama dengan negara lain melalui perdagangan bebas yang adil, sehingga ekonomi Amerika yang kuat akan mengangkat negara-negara lain.



Dalam pidatonya, Trump ingin menjadikan Amerika Serikat sebagai lingkungan bisnis yang ramah, di mana sebagian didorong oleh pemotongan pajak perusahaan secara besar-besaran. Hal ini sebagai upaya pemerintahnya untuk mengurangi peraturan tentang bisnis.

"Sekarang adalah saat yang tepat untuk membawa bisnis, pekerjaan dan investasi Anda ke Amerika Serikat," kata Trump kepada para pemimpin politik dan bisnis di Davos.

Pidato Trump tersebut seakan menjawab “cibiran” dari Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel yang mengatakan bahwa proteksionisme bukanlah jawaban yang tepat, kendati keduanya tidak menyebut nama Trump.

Trump lantas menaikkan alis ketika berbicara soal perdagangan Trans-Pacific Partnership. Ia menyatakan akan memikirkan kembali kesepakatan TPP jika AS mendapat kesempatan yang jauh lebih baik. Tahun lalu, Trump menarik diri dari kesepakatan karena menilai TPP merugikan negaranya.

"Saya akan melakukan TPP jika kita dapat membuat kesepakatan yang jauh lebih baik. Kesepakatan itu mengerikan. Cara terstrukturnya sangat mengerikan. Jika kita melakukan kesepakatan yang jauh lebih baik, saya akan terbuka terhadap TPP," ujarnya kepada CNBC. Kesepakatan TPP yang melibatkan Amerika Serikat, salah satunya merupakan inisiasi dari pendahulu Trump, yakni Barack Obama.

Mengikuti ucapan Trump, Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin mengatakan kepada CNBC bahwa Trump lebih menyukai kesepakatan perdagangan bilateral. Namun dia mengatakan atasannya akan “mempertimbangkan” sebuah kesepakatan multilateral jika ada pengaturan yang baik untuk Amerika Serikat.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak