alexametrics

PM Inggris Jatuh Hati Kepada Jack Ma soal Perdagangan

loading...
PM Inggris Jatuh Hati Kepada Jack Ma soal Perdagangan
Perdana Menteri Inggris Theresa May dan pendiri Alibaba Group Jack Ma. Foto/South China Morning Post
A+ A-
LONDON - Dua kali pertemuan dengan Jack Ma membuat Perdana Menteri Inggris Theresa May “jatuh hati”. Pertemuan pertama berlangsung pada World Economic Forum di Davos, Swiss pada Januari lalu. Yang kedua, saat May berkunjung ke Shanghai, China, pada pekan silam.

Menukil dari Bloomberg, Sabtu (10/2/2018), May kagum dengan Ma, sang pendiri Alibaba Group yang berhasil membangun imperium bisnisnya hingga memiliki kekayaan bersih USD45,5 miliar. Jika dikonversi ke rupiah setara dengan Rp619,49 triliun. Estimasi kurs Rp13.615 per USD.

Karena itu, May dikabarkan belajar kepada Ma terkait rencana Brexit-nya. May sangat terkesan dengan cara Ma menavigasi peraturan bea cukai China yang ketat untuk mengimpor dan mengekspor barang.



Pemerintah Inggris, kata seorang sumber, lantas memutuskan untuk mempelajari Alibaba mengenai bagaimana platform perdagangan online tersebut menavigasi kompleksitas peraturan internasional, sambil memberikan layanan yang lancar bagi pelanggan mereka. Sayangnya Alibaba menolak berkomentar perihal ini. Begitu pula dengan Kantor Perdana Menteri Inggris.

Menurut si sumber, pejabat Inggris akan mempelajari bisnis logistik Cainiao yang digunakanan Alibaba dalam menyediakan layanan pengiriman di China dan luar negeri, yang dilakukan secara bersamaan. Cainiao sendiri tidak mengantarkan barang langsung ke pelanggan. Mereka menjalankan platform data yang melacak barang secara real time dan mengatur pengiriman kepada sekitar 2 juta orang di lebih dari 600 kota di dunia.

Selain dengan Alibaba, May juga kabarnya tertarik belajar dari Amazon melayani pelanggan mereka. Pasalnya, Brexit berpotensi menimbulkan masalah bagi perdagangan lintas batas Inggris.

Brexit dinilai akan memberatkan tarif dan peraturan yang diperlukan pada barang-barang Inggris yang diperdagangkan di perbatasan Negeri Ratu Elizabeth II. Prospek kesepakatan bisa berantakan jika May dan Uni Eropa tidak dapat menyetujui cara untuk menghindari pembentukan perbatasan bea cukai baru antara Inggris dan Irlandia setelah Brexit.

Aliran lalu lintas yang terbuka di sepanjang perbatasan merupakan simbol kunci perdamaian di Irlandia, di mana Uni Eropa dan Inggris berkomitmen untuk mempertahankannya.

Pejabat Inggris dan Irlandia mencoba menemukan cara untuk melindungi standar perdagangan dan menghindari pos pemeriksaan di perbatasan antara Republik Irlandia dan Irlandia Utara. Dan sejauh ini, belum ada jalan keluar yang bisa diperoleh.

Pemerintah Inggris tertarik pada solusi teknologi yang dilakukan perusahaan e-commerce, di mana formulir dan pemeriksaan dapat diselesaikan jauh dari perbatasan. Ini menjadi penting bagi Inggris karena Uni Eropa ingin menjadikan Irlandia Utara dalam serikat bea cukai UE. Namun usulan Uni Eropa ditolak oleh May.

Tidak ingin mendapat kendala, dua pejabat Inggris mengatakan May memilih untuk belajar dari Alibaba dan Amazon untuk membantu Inggris menemukan jawaban melalui bagaimana cara mereka menggunakan teknologi untuk mempercepat arus barang melintasi batas-batas nasional. Kabarnya, pejabat Inggris sedang belakar kepada Amazon untuk membantu ekspor bisnis Inggris dalam skala kecil ke negara-negara dengan peraturan bea cukai yang ketat.

Setelah bertemu Ma, Perdana Menteri May berkomentar bahwa jika memungkinkan Inggris melakukan perdagangan melintasi perbatasan ke China secara mudah. Karena itu, Inggris ingin merancang sebuah sistem yang akan memudahkan Inggris menjual barang-barangnya setelah Brexit.

Selama ini, Alibaba telah membantu mengemudikan kesepakatan perdagangan bebas antara China dan Malaysia. Tapi diantara hubungan May dengan Ma, terdapat orang ketiga. Presiden Prancis Emmanuel Macron menawarkan Ma untuk membangun sebuah pusat logistik di Prancis.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak