alexametrics

Jadi Menteri Terbaik di Dunia, Ini Terobosan Sri Mulyani

Jadi Menteri Terbaik di Dunia, Ini Terobosan Sri Mulyani
Sri Mulyani menerima penghargaan sebagai menteri terbaik di dunia pada ajang World Government Summit di Dubai, Uni Emirat Arab, Minggu (11/2/2018). FOTO/IST
A+ A-
JAKARTA - Luar biasa. Berkat keberanian dan sejumlah terobosannya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dinobatkan sebagai menteri terbaik di dunia. Prestasi ini mengukuhkan kemampuan sumberdaya Indonesia yang berdaya saing kuat di pentas global.

Penghargaan sebagai menteri terbaik di dunia (best minister in the world award) diterima Sri Mulyani pada ajang World Government Summit yang diselenggarakan di Dubai, Uni Emirat Arab, Minggu (11/2/2018). Di level Asia, dia termasuk penerima dan perempuan pertama yang mendapatkan penghargaan bergengsi ini. Forum ini juga dihadiri lebih dari 4.000 peserta dan 90 pembicara dari 150 negara serta lembaga internasional.

Prestasi bergengsi ini bukan pertama kali diraih Sri Mulyani. Sederet penghargaan level regional dan nasional sebelumnya banyak dia dapatkan, di antaranya sebagai Menkeu Terbaik di Asia pada 2017 versi Majalah Finance Asia. Mendapatkan predikat menteri terbaik di dunia, Sri Mulyani pun tetap rendah hati. "Penghargaan tersebut merupakan pengakuan atas kerja kolektif pemerintah di bawah pimpinan Presiden Joko Widodo, khususnya di bidang ekonomi," katanya dalam keterangan persnya.

Dia juga mendedikasikan penghargaan tersebut kepada 257 juta rakyat Indonesia dan 78.164 jajaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang telah bekerja keras untuk mengelola keuangan negara dengan integritas dan komitmen tinggi untuk menciptakan kesejahteraan rakyat. Menurut dia, berbagai upaya reformasi kebijakan telah dicanangkan di Kemenkeu, bertujuan untuk mendorong kebijakan fiskal menuju pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

"Reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan juga sudah membuahkan banyak hasil," papar ekonom kelahiran Bandar Lampung, 55 tahun silam, ini.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira menilai, sejak Sri Mulyani menjabat sebagai menkeu di Kabinet Kerja pada 2016 lalu, ada beberapa capaian yang patut diapresiasi. Pertama soal reformasi birokrasi di Kemenkeu yang bisa direalisasi hingga sekarang. Menurut dia, reformasi birokrasi ini mendukung tercapainya kelembagaan Kemenkeu yang lebih transparan dan bersih. Kedua, kemampuan menjaga defisit anggaran di bawah 3% patut diacungi jempol.

Meskipun defisit anggaran cenderung naik karena pembiayaan infrastruktur, ketegasannya untuk memangkas anggaran dan melakukan extra-effort dalam penerimaan pajak bisa menyelamatkan APBN 2017. Ketiga, Sri Mulyani juga menambah terus dana kelolaan pendidikan di Lembaga Dana Pengelola Pendidikan (LPDP) yang nilainya mencapai Rp31 triliun dan 17.000 lebih orang menjadi penerima beasiswa.

"Adanya keberpihakan nyata di bidang pendidikan merupakan sebuah prestasi Sri Mulyani yang akan membekas di benak rakyat Indonesia," terang Bhima.

Harapannya, ke depan anggaran negara dibuat dengan proyeksi yang lebih kredibel. Sepanjang tahun 2017 pemerintah beberapa kali melakukan revisi pertumbuhan ekonomi. "Akhirnya pertumbuhan ekonomi hanya 5,07% di bawah target 5,2%," imbuh dia.

Kemudian pengelolaan utang harus dilakukan secara hati-hati. "Idealnya utang yang terus naik berkorelasi positif dengan naiknya pertumbuhan ekonomi. Kalau ekonomi cuma tumbuh di kisaran 5%, artinya pengelolaan utang sebagai leverage belum efektif mendongkrak perekonomian," terang Bhima.

Anggota Komisi XI DPR Hendrawan Supratikno juga mengapresiasi penghargaan terhadap Sri Mulyani sebagai menteri terbaik di dunia. Hal ini sebagai apresiasi dunia internasional terhadap Indonesia, khususnya kepada kinerja Sri Mulyani. Menurut dia, alasan lembaga independen Ernst & Young memilih Sri Mulyani sebagai menteri terbaik di dunia karena langkah maupun kebijakannya yang dinilai cukup berani. Hal tersebut juga memberikan kepastian usaha dan konsistensi dalam segala kebijakannya.

"Beliau sudah melakukan langkah yang berani, segala kebijakannya ingin memberikan kepastian usaha di Tanah Air," tambahnya.

Hendrawan juga menilai, sejumlah kebijakan yang telah dikeluarkan Sri Mulyani lebih realistis. Pasalnya saat ini kondisi ekonomi nasional telah mencapai fase normalitas baru. Untuk itu dibutuhkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2019-2024 yang juga harus lebih realistis. "Namun kita jangan sampai terlena, tapi tetap kita apresiasi. Jadi jangan terbuai oleh pujian dan jangan menyerah oleh kesulitan," tegasnya.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top