alexametrics

Wall Street Ditutup Rebound Usai Pekan Lalu Anjlok

loading...
Wall Street Ditutup Rebound Usai Pekan Lalu Anjlok
Wall Street pada perdagangan kemarin ditutup rebound dengan kenaikan berbasis luas karena investor kembali merasa percaya diri. Foto/Ist
A+ A-
NEW YORK - Tiga indeks utama Wall Street pada perdagangan kemarin ditutup rebound dengan kenaikan berbasis luas karena investor kembali merasa percaya diri setelah penurunan mingguan terbesar AS dalam dua tahun terakhir. Namun, para ahli strategi tidak lagi menghentikan pelemahan pasar.

Seperti dikutip dari Reuters, Selasa (13/2/2018), Indeks Dow Jones Industrial Average naik 410,37 poin atau 1,7% menjadi 24.601,27, Indeks S&P 500 naik 36,45 poin atau 1,39% menjadi 2.656 dan Nasdaq Composite bertambah 107,47 poin atau 1,56% menjadi 6.981,96.

Pengumuman anggaran Presiden Donald Trump, termasuk rencana pengeluaran infrastruktur, membantu sektor saham seperti sektor material pada Indeks S&P dan industri. Namun, faktor yang lebih besar kemungkinannya adalah tes S&P dan rebound dari level teknis utama pada Jumat ketika turun tajam 11,8% dari rekor 26 Januari dan di bawah rata-rata pergerakan 200 hari selama sesi tersebut, menurut ahli strategi.

"Investor mungkin merenungkan hal-hal selama akhir pekan dan menyimpulkan bahwa ekonomi cukup kuat, pendapatan bertahan, jadi tidak ada alasan khusus untuk panik atau menjual. Jadi, sejumlah uang mungkin akan kembali masuk pasar," kata John Carey, manajer portofolio di Amundi Pioneer Asset Management di Boston.

Penjualan panik pekan lalu nampaknya dilakukan, ahli strategi tidak menghentikan kemunduran. Indeks S&P masih ditutup 7,6% di bawah penutupan tertinggi pada 26 Januari. Ini mengkonfirmasi koreksi pada Kamis, saat turun 10% di bawah catatan.

Jeff Schulze, ahli strategi investasi di Clearbridge Investments di New York mengharapkan volatilitas lebih, karena tarik-menarik dari momentum harga negatif jangka pendek bertahan terhadap fundamental jangka panjang.

Dia mengatakan, fundamental jangka panjang akan menang, tapi volatilitas juga akan menjadi bagian dari persamaan itu.

Sebanyak 11 sektor utama Indeks S&P 500 naik, meskipun sektor obligasi-proxy real estat, utilitas dan layanan telekomunikasi mengalami underperformed karena investor memantau kenaikan suku bunga setelah yield Treasury AS pada 10-tahun mencapai level tertinggi dalam empat tahun di level 2,902.

Sektor material di Indeks S&P merupakan pembentuk persentase terbesar dengan kenaikan 2,1% diikuti oleh kenaikan 1,8% pada sektor teknologi informasi.

Bursa saham dibantu sedikit oleh proposal anggaran Trump untuk tahun fiskal 2019, yang mencakup USD200 miliar untuk belanja infrastruktur, lebih dari USD23 miliar untuk keamanan perbatasan dan penegakan imigrasi, serta USD716 miliar untuk program militer, termasuk gudang senjata nuklir AS.

Indeks Volatilitas CBOE, barometer yang paling banyak diikuti dari volatilitas pasar saham, berakhir turun 3,45 poin menjadi 25,61, penutupan terendah sejak 2 Februari.

Pasar ketakutan setelah data pertumbuhan upah yang kuat pada 2 Februari menaikkan momok kenaikan inflasi dan kekhawatiran kenaikan suku bunga yang dipercepat, yang memicu kenaikan imbal hasil obligasi dan aksi jual di saham.

Kenaikan saham terbesar Indeks S&P dari saham tunggal berasal dari Apple Inc, yang naik 4% dan Amazon.com yang berakhir naik 3,5%.
(izz)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak