alexametrics

Adira Finance Ukir Laba Bersih Rp1,4 T & Pembiayaan Baru Rp32,7 T

loading...
Adira Finance Ukir Laba Bersih Rp1,4 T & Pembiayaan Baru Rp32,7 T
Adira Finance Ukir Laba Bersih Rp1,4 T & Pembiayaan Baru Rp32,7 T/SINDONEWS
A+ A-
JAKARTA - Adira Finance mencatatkan kenaikan laba bersih dan pertumbuhan penyaluran pembiayaan di tengah pasar automotif di Tanah Air mengalami tekanan. Sepanjang 2017, perusahaan pembiayaan terbesar di Indonesia itu mampu mencetak laba bersih sebesar Rp1.409 miliar atau Rp1,4 triliun dan pembiayaan baru Rp32,7 triliun.

’’Kami berhasil menutup tahun 2017 dengan mencatatkan pertumbuhan pada penyaluran pembiayaan baru meskipun pasar otomotif masih mengalami tekanan. Kami membukukan pembiayaan baru sejumlah Rp32,7 triliun atau naik 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Piutang pembiayaan yang dikelola (managed receivables) tercatat sebesar Rp45,2 triliun, dan laba bersih tercatat sejumlah Rp1.409 miliar,” kata Hafid Hadeli selaku Direktur Utama Adira Finance di Jakarta, Kamis (15/2/2018).

Jumlah laba bersih sebesar Rp1.409 miliar atau Rp1,4 triliun mengalami kenaikan 39,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1.009 miliar. Kenaikan laba bersih ini terutama didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga karena pertumbuhan pada penyaluran pembiayaan baru dan penurunan biaya pendanaan.

Secara keseluruhan, total pendapatan tercatat tumbuh 8,6% menjadi Rp9,1 triliun pada 2017. Sementara itu, total beban mencatatkan kenaikan sebesar 4,7% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi Rp7,0 triliun. Kendati terjadi kenaikan pada beban operasional, yang terutamanya didorong oleh naiknya beban tenaga kerja karena kenaikan UMP, namun, beban bunga dan keuangan mengalami penurunan sebesar 7,5% menjadi Rp1,8 triliun karena kondisi pasar keuangan yang favorable disertai dengan strategi diversifikasi sumber pendanaan Perusahaan.

’’Pada 2017, Adira Finance menyalurkan pembiayaan untuk hampir 1,7 juta kontrak baru dengan nilai total mencapai Rp32,7 triliun. Dari jumlah kontrak tersebut, terdapat 665 ribu unit sepeda motor baru dan 48 ribu unit mobil baru yang dibiayai Adira Finance,’’kata Hafid.

Dia menjelaskan, pertumbuhan ituni memberikan pangsa pasar bagi Perusahaan sebesar 11,3% untuk sepeda motor baru dan 4,4% untuk mobil baru. Portofolio sepeda motor, kata Hafid, tercatat sejumlah Rp18,1 triliun, mobil sejumlah Rp13,8 triliun dan barang rumah tangga (durables) sejumlah Rp834 miliar.

Di sepanjang 2017, kondisi ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan sebagaimana dapat dilihat dari  pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari tahun 2016 lalu yang sebesar 5,02% menjadi 5,07% pada tahun 2017. Dari indikator makro ini, salah satu hal positif yang dapat dilihat adalah kenaikan pada investasi, dimana kontribusinya mendekati konsumsi rumah tangga. Selain itu, inflasi pun masih sesuai target pemerintah pada level 3,61%. Untuk memacu pertumbuhan kredit, Bank Sentral menurunkan suku bunga acuannya hingga 50 bps menjadi 4,25% sejak Kuartal III-2017.

Penjualan kendaraan bermotor domestik yang merupakan indikator permintaan konsumen Tanah Air juga mulai menunjukkan indikasi membaik. Berdasarkan data AISI, jumlah penjualan sepeda motor baru secara nasional pada tahun 2017 mencapai 5,89 juta unit, hanya turun sedikit (1%) atau flat dibandingkan tahun 2016 yang sejumlah 5,93 juta unit setelah 2 tahun berturut-turut mengalami penurunan penjualan.

Sementara itu, penjualan mobil baru secara wholesales lebih kuat dalam pertumbuhannya yang didorong oleh meningkatnya penjualan kendaraan komersial sebesar 17%. Pada tahun 2017, penjualan nasional tercatat tumbuh 2% menjadi 1,08 juta unit dari 1,06 juta unit pada tahun 2016.

’’Pembiayaan sepeda motor merupakan kontributor utama pembiayaan baru kami sebesar 55%, diikuti oleh pembiayaan mobil sebesar 42% dan sisanya adalah barang-barang rumah tangga (durables). Pendorong pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang terbesar adalah pada produk sepeda motor bekas dan mobil baru,” jelas Hafid.

Untuk menunjang kegiatan usaha penyaluran pembiayaan ini, Adira Finance memiliki beberapa alternatif sumber pendanaan, yakni skema pembiayaan bersama dan pendanaan eksternal yang terdiri dari pinjaman perbankan baik dari dalam maupun luar negeri dan surat utang dalam negeri. Strategi ini membantu Adira Finance dalam memiliki fleksibilitas dalam memperoleh pendanaan yang mencukupi dengan tingkat bunga yang kompetitif.

’’Sepanjang tahun 2017, piutang pembiayaan yang didanai skema pembiayaan bersama mencapai Rp18,0 triliun, setara dengan 40% dari piutang pembiayaan yang dikelola. Sementara pendanaan yang berasal dari eksternal mencapai Rp21,0 triliun. Pinjaman perbankan dan pasar modal memiliki kontribusi 50%:50%. Gearing ratio terjaga pada tingkat 3,7 kali. Pada tahun 2017, kami menerbitkan obligasi sebesar Rp4,1 triliun melalui Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan III Tahap V & VI dan Obligasi Berkelanjutan IV Tahap I,''papar I Dewa Made Susila selaku Direktur Keuangan.

 ''Kami juga menerbitkan sukuk sebesar Rp586 miliar melalui Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Tahap III dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan III Tahap I. Perusahaan juga telah menandatangani perjanjian fasilitas pinjaman sindikasi sebesar USD250 juta. Kebijakan Perusahaan dalam mengelola risiko yang melekat pada pinjaman perbankan luar negeri adalah dengan melakukan lindung nilai sepenuhnya,”lanjutnya.
halaman ke-1 dari 2
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak