alexametrics

AS Akan Kenakan Tarif ke China Atas Pencurian Kekayaan Intelektual

loading...
AS Akan Kenakan Tarif ke China Atas Pencurian Kekayaan Intelektual
Presiden AS Donald Trump dan Presiden RRC Xi Jinping. Foto/Fortune.com
A+ A-
WASHINGTON - Gedung Putih sedang mempertimbangkan untuk menerapkan tarif dan tindakan hukum terhadap Republik Rakyat China, atas tuduhan pencurian kekayaan intelektual. Amerika Serikat kerap menuding China telah mencuri kekayaan intelektual mereka, yang menjadi sumber ketegangan kedua negara belakangan ini.

Mengutip Nikkei Asian Review, Rabu (14/3/2018), Kantor Perwakilan Perdagangan AS mengajukan proposal ke Gedung Putih untuk mengenakan tarif kepada berbagai produk China, pembatasan investasi perusahaan China di Amerika, dan pembatasan visa bagi warga negara China tertentu.

Menurut laporan tersebut, tarif tidak hanya menargetkan produk teknologi juga produk pakaian. Selain pencurian kekayaan intelektual yang dilakukan China, AS juga keberatan dengan peraturan investasi China yang mewajibkan perusahaan Negeri Abang Sam harus mentransfer teknologi jika ingin melakukan bisnis di China.

Presiden AS, Donald Trump pun sering menghardik China atas praktik perdagangan yang tidak adil. Mengutip dari Reuters, Rabu (14/3/2018), Trump kemungkinan bakal mengenakan tarif sebesar USD60 miliar terhadap produk China yang masuk negaranya. Jumlah tersebut setara dengan Rp824,76 triliun dengan estimasi kurs Rp13.746 per USD.



Tarif ini dibuat atas dasar temuan penyelidikan yang dilakukan Perwakilan Perdagangan AS, Robert Lighthizer terhadap China. Menurut kabar yang diterima Reuters, hukuman ini dapat memicu hubungan perdagangan yang lebih buruk antara AS dengan China.

Bagi Trump sikap proteksionismenya ini untuk memenuhi janji kampanyenya, yaitu membela perdagangan Amerika. Selain mengenakan tarif impor, Trump juga melarang perusahaan asing membeli perusahaan AS dengan alasan keamanan. Pada Senin lalu, Trump memblokir usaha Broadcom, perusahaan yang berbasis di Singapura untuk membeli perusahaan pembuat chip AS, Qualcomm.

Analis perangkat lunak di Bernstein, Stacy Rasgon mengatakan, pelarangan bisnis Broadcom untuk melindungi posisi Qualcomm dan AS. Trump khawatir pembelian tersebut akan menguasai jaringan 5G Amerika dan membawa Huawei, perusahaan China untuk mengambil alih.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak