alexametrics

Pasar Properti Lesu, Intiland Bukukan Pendapatan Rp2,2 Triliun

loading...
Pasar Properti Lesu, Intiland Bukukan Pendapatan Rp2,2 Triliun
Kondisi pasar properti sepanjang 2017 boleh dibilang kurang kondusif. Namun tidak demikian dengan pengembang properti PT Intiland Development Tbk (Intiland DILD). Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Kondisi pasar properti sepanjang 2017 boleh dibilang kurang kondusif. Namun tidak demikian dengan pengembang properti PT Intiland Development Tbk (Intiland; DILD), justru berhasil mempertahankan pencapaian keuangan di tengah kondisi kurang bagus tersebut.

Berdasarkan laporan keuangan tahunan yang berakhir 31 Desember 2017, Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp2,2 triliun, atau menurun tipis dibandingkan tahun 2016 yang mencapai Rp2,3 triliun.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, Archied Noto Pradono menilai kondisi pasar properti secara umum belum sepenuhnya pulih di tahun 2017. Pasar properti nasional masih menghadapi sejumlah tantangan pertumbuhan, selain juga disebabkan konsumen dan investor yang cenderung masih mengambil sikap menunggu (wait and see) terhadap perubahan kondisi pasar.



“Segmen pengembangan kawasan industri dan recurring income (pendapatan berkelanjutan) menjadi pendorong utama pencapaian kinerja keuangan tahun 2017. Hasil penjualan lahan kawasan industri sepanjang tahun lalu bisa langsung dibukukan sebagai pendapatan usaha,” ungkap Archied dalam keterangan pers yang diterima SINDOnews, Senin (26/3/2018).

Segmen pengembangan kawasan industri mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp550,9 miliar atau memberikan kontribusi sebesar 25% dari keseluruhan. Jumlah tersebut melonjak sebesar 578% dibandingkan pencapaian tahun 2016 yang mencapai Rp81,3 miliar.

Segmen properti investasi yang merupakan sumber recurring income memberikan kontribusi senilai Rp528,2 miliar atau 24% dari keseluruhan. Segmen ini meraih pertumbuhan pendapatan usaha sebesar Rp180,6 miliar atau 52% dari pencapaian tahun 2016 senilai Rp347,6 miliar.

Peningkatan yang cukup signifikan ini, terutama dipicu oleh meningkatnya kontribusi dari pendapatan sewa perkantoran serta pengelolaan fasilitas gedung dan kawasan. Segmen pengembangan mixed-use and high rise mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp703,6 miliar, atau memberikan kontribusi 31,9%. Segmen pengembangan kawasan perumahantercatat memberikan kontribusi sebesar Rp420 miliar atau 19,1%.

Menurut Archied pengakuan penjualan pada dua segmen ini mengalami penurunan masing-masing sebesar 37% dan 43%. Penurunan ini lebih disebabkan marketing sales yang diperoleh dari kedua segmen tersebut belum bisa diakui sebagai pendapatan usaha.

“Penurunan ini karena marketing sales pada segmen mixed-use and high rise dan kawasan perumahan belum bisa dibukukan sebagai pendapatan usaha tahun 2017, karena menunggu progres pembangunan,” ungkap Archied.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak