alexametrics

Petani Didorong Jadi Peserta AUTP Komersil

loading...
Petani Didorong Jadi Peserta AUTP Komersil
Gedung Kementerian Pertanian. Foto/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Program Asuransi usaha tani padi (AUTP) yang dicanangkan Kementerian Pertanian (Kementan) sejak tiga tahun lalu diharapkan menjadi triger bagi petani untuk kian menyadari akan pentingnya berasuransi. Sasarannya ke depan, petani menjadikan asuransi sebagai kebutuhan sehingga tetap berasuransi meski tak lagi mendapat subsidi premi.

Direktur Pembiayaan Pertanian Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Sri Kuntarsih mengatakan, petani yang sudah mengikuti AUTP ke depan diharapkan bisa meneruskan polis asuransinya secara komersil. Bahkan, petani yang sudah tergabung dalam korporasi bisa ikut AUTP secara komersil.

"AUTP ini sebagai triger, selanjutnya alangkah baiknya petani bisa mandiri untuk mengikuti AUTP secara komersil," ujarnya dalam keterangan pers, Selasa (17/4/2018).

Menurut Sri Kuntarsih, petani tak bisa hanya mengandalkan subsidi dari pemerintah sebab dana dari pemerintah itu terbatas. "Memang, program AUTP yang dikembangkan pemerintah baru berjalan tiga tahun. Pada tahun ini, target AUTP yang masih disubsidi pemerintah seluas 1 juta hektare. Diharapkan jumlah petani peserta AUTP tahun ini meningkat," jelasnya.

Untuk mendorong petani mau menjadi peserta AUTP, Kementan melalui Ditjen PSP terus melakukan sosialisasi pengembangan asuransi tani ke sejumlah daerah. Sosialisasi khususnya dilakukan ke daerah-daerah yang sesuai data BMKG rawan banjir dan kekeringan, juga menyasar ke sejumlah kabupaten yang rawan serangan hama penyakit (OPT).

Menurut Sri Kuntarsih, daerah seperti Bojonegoro Jawa Timur dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan yang rawan banjir dan kekeringan, juga menjadi sasaran sosialisasi AUTP. Begitu juga beberapa wilayah di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang rawan hama wereng, juga menjadi sasaran sosialisasi, agar petaninya bisa menjadi peserta asuransi pertanian.

Dalam melakukan sosialisasi, petugas dari Ditjen PSP dibantu penyuluh dan petugas POPT terjun langsung ke lapangan. Para petugas dari Dinas Pertanian, POPT dan PT Jasindo melakukan pendataan langsung ke petani, agar proses mereka menjadi peserta AUTP lebih mudah.

“Sosialisasi terus kami lakukan di lapangan, agar target 1 juta ha bisa tercapai sebelum akhir tahun 2018,” ujar Sri Kuntarsih.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Divisi Asuransi Agri dan Mikro PT Jasindo, Ika Dwinita Sofa mengatakan, program AUTP yang disubsidi pemerintah masih berjalan. Bahkan, pihaknya bersama dinas terkait hingga kini terus melakukan sosialisasi di lapangan.

Ika menilai, masyarakat petani saat ini belum asuransi minded. Artinya, masih banyak petani yang belum paham atau belum sadar akan pentingnya asuransi bagi dirinya. Karena itu, pengembangan AUTP harus dibarengi dengan pelaksanaan program pemerintah lainnya, seperti KUR, alsintan, dan luas tambah tanam (LTT).

Meski masih melanjutkan program AUTP bersama Kementan, PT Jasindo saat ini mulai merambah ke asuransi non subsidi (komersil). "Tapi, belum merambah ke petani perorangan. Yang kami lakukan adalah ke perusahaan yang berinvestasi di sektor pertanian atau korporasi. Sehingga jumlah pesertanya belum banyak," jelas Ika.

Masih Minim

Jumlah peserta AUTP komersil sejauh ini baru sekitar 1% dari total jumlah AUTP yang disubsidi. Artinya, dari segi jumlah masih sangat sedikit. Sebab, peserta AUTP komersil sangat tergantung luas lahan dan nilai jaminannya.

"Kalau lahan sawah yang dijaminkan cukup luas, maka ada syarat tertentu yang bisa dipertimbangkan perusahaan asuransi. Seperti di Merauke ada tambahan klaim kalau lahan sawah (padinya) terkena serangan hama burung," jelas Ika.

Ia menjelaskan, AUTP komersil juga membayar klaim terjadinya penurunan hasil yang disebabkan penyakit atau hama tertentu. Artinya, ada tambahan klaim yang bisa memberi benefit tertentu bagi peserta.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak