alexametrics

PUPR Tekankan Pentingnya Akses Air Bersih, 65 Bendungan Dibangun

loading...
PUPR Tekankan Pentingnya Akses Air Bersih, 65 Bendungan Dibangun
Guna membuka lebih luas akses air bersih, selain pembangunan 65 bendungan baru. Saat ini pemerintah juga menargetkan restorasi 15 danau hingga 2019. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menekankan pentingnya membuka akses air bersih saat penutupan Hari Air Dunia 2018 yakni Lestarikan Alam untuk Air. Berdasarkan data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), sekitar 72 juta jiwa dari total 262 juta jiwa penduduk Indonesia tidak memiliki akses air bersih.

Maka guna membuka lebih luas akses air bersih, selain pembangunan 65 bendungan baru, saat ini pemerintah juga menargetkan restorasi 15 danau hingga 2019. Melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, rumuskan aksi nyata juga dibangun melalui Dialog Nasional dengan mengusung tema Membangun Komitmen Bersama.

"Restorasi Danau Rawa Pening di Jawa Tengah dan pembersihan hulu Sungai Citarum dari kontaminasi sampah dan air limbah, menjadi fokus pemerintah saat ini. Metodenya, kami gunakan pendekatan Solusiberbasis Alam, sehingga diharapkan masyarakat dapat turut berpartisipasi," ujar Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono.

Berbagai upaya pemeliharaan dilakukan di Danau Rawa Pening yang awalnya lebih dari dua pertiga areanya ditutupi enceng gondok. Ada tiga langkah yang dilakukan untuk memulihkan Danau Rawa Pening, di antaranya restorasi, pelestarian (preservasi), dan membangun kembali untuk tujuan tertentu (konservasi).

"Bersama masyarakat, kami lakukan aksi nyata, mulai dari pengerukan danau, pembuatan tanggul pembatas, hingga pembersihan enceng gondok secara rutin," ujar Ir. Sujadi, Komisi V DPR RI.

Hasilnya terang dia, saat ini, tinggal 30% area Danau Rawa Pening yang masih tertutup eceng gondok, "Bahkan lokasinya sudah menjadi obyek wisata yang populer di Jawa Tengah," tambah Sujadi.

Pemerintah sendiri menargetkan Sungai Citarum Layak Minum di tahun 2025. Sejak 10 tahun lalu, Bank Dunia pernah menobatkan Sungai Citarum sebagai salah satu sungai terkotor di dunia.

Ironisnya, lebih dari 27 juta jiwa di wilayah Jawa Barat dan Jakarta justru menjadikan Sungai Citarum sebagai salah satu sumber air untuk kehidupan. "Itulah sebabnya pemerintah menetapkan prioritas untuk memulihkan Sungai Citarum, lewat program Citarum Harum," ungkap Basuki Hadimuljono.

Presiden Joko Widodo menargetkan, di tahun 2025, Sungai Citarum sudah layak dikonsumsi. Langkah nyata juga telah dilakukan Kementerian PUPR untuk membebaskan Citarum dari sampah yakni untuk pengelolaan sampah yang menumpuk di Citarum dibangun Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Regional Legok Nangka di Kabupaten Bandung, yang bisa memuat sampah hingga 1,500 ton/hari.

"Namun, sebelum masuk ke TPA, kami lakukan dulu pemilahan sampah atau 3R (reduce, reuse, recycle), sehingga volume sampah di TPA pun tidak sampai menggunung. Sementara air limbahnya, ditampung dalam instalasi penjernihan air untuk kemudian diolah menjadi air bersih," tambah Sri Hartoyo, Direktorat Jenderal Cipta Karya.

Bersama air hujan, proses penampungan air limbah ini juga bisa menghasilkan energi listrik sekaligus membantu irigasi. Seperti terangkum dalam Sustainable Development Goals (SDG) 6 by United Nations, masyarakat diajak untuk melakukan perubahan demi menjaga keberlangsungan air sekaligus pengelolaan sampah yang bermanfaat, demi tercapainya masa depan dan dunia yang lebih baik di tahun 2030.

Sebagai informasi dalam Dialog Nasional dengan tema Membangun Komitmen Bersama, berbagai institusi turut berpartisipasi dalam diskusi ini, di antaranya Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI); Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung.

Selanjutnya ada juga Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia; Direktorat Jenderal Cipta Karya; Wisdom Park oleh Universitas Gajah Mada (UGM) Residences; dan Green Building Council Indonesia, untuk membahas inovasi dan gerakan konservasi air di berbagai daerah krisis air bersih di Indonesia, khususnya Rawa Pening dan Citarum.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak