alexametrics

Rupiah Tertekan, OJK Pede Ekonomi Indonesia Tidak Mengkhawatirkan

loading...
Rupiah Tertekan, OJK Pede Ekonomi Indonesia Tidak Mengkhawatirkan
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. Foto/SINDOnews/Lily Rusna Fajriah
A+ A-
JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) percaya diri bahwa tidak ada yang mengkhawatirkan dengan kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu belakangan terus tertekan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, tekanan yang terjadi lebih banyak dipicu oleh normalisasi kebijakan suku bunga di Amerika Serikat. Sehingga, dia yakin tidak ada yang mengkhawatirkan dalam kondisi perekonomian dalam negeri.

"Tidak ada sebenarnya perkembangan yang mengkhawatirkan di domestik, karena tidak ada kejadian yang anomali di domestik," katanya di Gedung Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (11/5/2018).

Menurutnya, Indonesia bukan kali pertama menghadapi gejolak perekonomian global seperti saat ini. Sehingga, Wimboh menganggap bahwa gejolak yang terjadi ini bukanlah sesuatu kejadian luar biasa dan harus direspon dengan kebijakan yang drastis.

"Ini sudah terjadi berkali-kali dan sudah menghadapi hal seperti ini yang sama. Jadi tidak ada kejadian luar biasa," imbuh dia.

Diakuinya, dari sektor keuangan memang ada yang melakukan penyesuaian (rebalancing). Namun, hal ini pun biasa terjadi dan bukan hanya dialami oleh Indonesia melainkan seluruh negara di dunia.

"Indeks saham yang mengalami perubahan dan ternyata hari ini sudah mulai rebound d iatas 6.000 dan akhir tahun kemarin bisa mencapai 6.500. Ini hal biasa dan sangat temporer. Di samping itu, juga terjadi kenaikan yield surat utang dan ini bukan hanya terjadi di Indonesia tapi juga di AS. Kami melihat kondisi ini masih dalam tatanan normal sehingga kami tidak perlu mengambil kebijakan yang drastis. Ini masih kami konsederasikan dalam kondisi normal," tegasnya.

Wimboh melanjutkan, kondisi perbankan juga menunjukkan perkembangan yang baik, dimana pertumbuhan kredit year on year (yoy) mencapai 8,54% hingga akhir Maret 2018. Selain itu, risiko kredit macet (non performing loan/NPL) pun menurun menjadi 2,75%, tren suku bunga secara gradual pun menurun.

Untuk deposito 1 bulan ini 5,63%, deposito 3 bulan 5,90%, deposito 6 bulan 6,24%, deposito 12 bulan 6,15%. "Jadi tidak ada situasi yang mengkhawatirkan. Suku bunga kredit juga menurun, bahkan beberapa korporasi di bawah 9%. Secara rata-rata kredit modal kerja sekitar 10%. Jadi tidak ada anomali di kondisi perbankan. Kami juga melihat pertumbuhan kredit ini semakin lama dan harapannya meningkat sampai 12%, sesuai target 2018," tandas dia.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak