alexametrics

Surat Utang Negara Menyasar Kaum Milenial

loading...
Surat Utang Negara Menyasar Kaum Milenial
Kemenkeu akan menawarkan surat utang, SBR003 yang menyasar kaum milenial. FOTO/ILUSTRASI/IST
A+ A-
JAKARTA - Potensi pasar generasi milenial menjadi incaran hampir di semua sektor, mulai dari ritel hingga keuangan. Pemerintah pun tak ingin kehilangan momentum. Baru-baru ini, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengumumkan akan menawarkan surat utang berupa Saving Bond Retail (SBR003) untuk anak zaman now.

Berdasarkan jadwal Kemenkeu, masa penawaran SBR003 akan dimulai pada 14 Mei 2018. Harapannya, surat utang untuk kelangan ritel itu bisa memperluas basis investor yang selama ini didominasi pembeli di atas 40 tahun.

"Yang kita sasar adalah generasi muda, bukan hanya yang berusia 40 tahun tapi juga generasi milenial yang sudah bekerja, punya pendapatan. Mereka ingin punya instrumen investasi, itu yang kita sediakan," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Luky Alfirman di Jakarta, Jumat (11/5/2018).



Menurut Luky, penerbitan SBR003 juga akan dilakukan secara online guna mempermudah akses masyarakat berinvestasi di surat utang negara (SUN) tersebut. Selain itu, memperluas basis investor dalam negeri dengan menyediakan alternatif investasi dan mendukung terwujudnya keuangan inklusif serta memenuhi sebagian pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018.

"Investor akan dimudahkan dengan adanya penjualan SBN (Surat Berharga Negara) secara online. Masyarakat tidak direpotkan lagi dengan berbagai urusan birokrasi dalam memperoleh investasi," tuturnya.

Dalam pelaksanaanya, kata Luky, proses pemesanan pembelian SBR003 secara online dilakukan melalui empat tahap yaitu registrasi/pendaftaran, pemesanan, pembayaran, dan setlement/konfirmasi. Pemesanan pembelian disampaikan melalui sistem elektronik yang disediakan Mitra Distribusi yang memiliki interface dengan sistem e-SBN. Adapun pembelian SBN ritel secara online memiliki tenor selama dua tahun dengan minimal pemesanan Rp1 juta dan maksimal pemesanan sebesar Rp3 miliar. Surat utang tersebut akan ditawarkan dengan kupon berdasarkan suku bunga acuan BI 7 Day Repo Rate 4,25% ditambah 225 basis poin sehingga menjadi 6,8%.

Rencana seremonial pembukaan masa penawaran (launching) SBR003 secara online akan dilakukan pada tanggal 14 Mei 2018 di Jakarta bekerja sama dengan para Mitra Distribusi. Dalam memasarkan SBR003 ini, pemerintah bekerja sama dengan sembilan mitra distribusi yang terdiri atas lima bank umum yakni Bank Mandiri, BCA, BNI, Permata Bank, dan BRI. Selain itu, pemerintah juga menggandeng perusahaan efek seperti Trimegah Securities, perusahaan efek khusus (Bareksa dan Star Mercato Capitale), dan perusahaan fintech Investree.

Sekadar diketahui, pada penerbitan awal nanti, yaitu pada tangal 14 Mei 2018, maka kupon berdasarkan suku bunga BI 7 Day Repo rate sebesar 4,25% ditambah dengan 255 bps, sehingga kupon SBR003 menjadi sebesar 6,8%. Adapun masa penawaran berlangsung dari 14-25 Mei dan tanggal penetapan pada 28 Mei 2018.

"Suku bunga acuan BI kan sifatnya naik turun, kalau naik kita akan sesuaikan, kalau turun itu ada floor-nya yaitu 4,25% jadi kuponnya tidak mungkin lebih rendah dari 6,8%. Diharapkan bisa menarik para investor ritel tadi," ujar Luky.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, langkah pemerintah membidik kaum milenial untuk memasarkan SBN ritel cukup progresif karena bisa menambah jumlah investor domestik di pasar surat utang.
Menurutnya, apabila pendalaman pasar semakin baik maka akan berdampak positif dalam menekan fluktuasi di pasar keuangan sehingga menjadi semakin kecil.

"Momentumnya saya kira juga tepat. Di satu sisi generasi milenial memang lebih adaptif terhadap instrumen investasi. Pemasaran SBN ritel harapannya nanti menggandeng fintech juga," ujar Bhima.

Dia berharap tren pembelian surat utang akan semakin mudah layaknya transaksi lewat mobile banking. Bahkan, kata dia, bisa jadi nantinya akan ada informasi yang lengkap dan perkembangan imbal hasil investasi misalnya juga bisa terus diperbaharui lewat aplikasi smartphone.
"Harapannya nominal SBN ritel yang ditawarkan minimum Rp500.000 agar lebih terjangkau dengan kemampuan finansial kaum milenial. Kemudian, jangan hanya di kota besar saja tapi juga bisa diakses di daerah terpencil," tutupnya.

Di bagian lain, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengajak para generasi milenial untuk melek soal pengelolaan keuangan. Menurut Sri Mulyani, generasi millenal saat ini dituntut untuk menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluarannya. Hal ini, tegas dia, merupakan salah satu hal mendasar dan terpenting dalam mengelola keuangan.

"Pertama atur dulu dan tetapkan keseimbangan antara pengeluaran dan pendapatan. Ini penting agar bisa mengelola utang," ujar Menkeu di acara talkshow Youth X Public Figure, di Jakarta, Sabtu (12/5/2018).

Selanjutnya, menetapkan prioritas dalam mengeluarkan uang. Generasi milenial, kata dia, harus bisa memilah pengeluaran agar tidak menguras keuangannya. "Poin saya, be your self! Jangan sampai prioritas Anda didikte orang lain. Buat keputusan dan jangan sampai tertekan," tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sri Mulyani mengaku senang berbagi pengetahuan tentang keuangan dan ekonomi dengan generasi milenial. Interaksi dengan generasi muda, ujar Sri Mulyani, membuatnya merasa lebih muda.
(amm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak