alexametrics

Kenaikan Suku Bunga Akan Cegah Cadangan Devisa RI Tergerus

loading...
Kenaikan Suku Bunga Akan Cegah Cadangan Devisa RI Tergerus
Kenaikan suku bunga acuan BI-7 days Reverse Repo Rate ke level 4,5% diyakini bisa menjaga cadangan devisa agar tidak tergerus oleh pelemahan kurs rupiah. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Kenaikan suku bunga acuan BI-7 days Reverse Repo Rate ke level 4,5% dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 3,75% dan Lending Facility tetap sebesar 5,25% diyakini bakal memiliki dampak positif. Dalam hal ini Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai, kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) bisa menjaga cadangan devisa agar tidak tergerus oleh kurs rupiah.

"Dampak positif yang timbul yakni cadangan devisa untuk stabilisasi kurs tidak akan terus tergerus secara besar besaran. Sejak awal tahun, cadev sudah tergerus USD7 miliar. Dampak lainnya adalah menguatnya confidence (kepercayaan) pelaku pasar bahwa BI telah melakukan kebijakan yang tepat," ujar Bhima saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Jumat (18/5/2018).

(Baca Juga: Intervensi Rupiah, BI Korbankan Cadangan Devisa Tergerus)



Meski begitu, kenaikan suku bunga bukan tidak memiliki dampak negatif yang harus diwaspadai. Sambung dia, menerangkan bahwa efek lain kenaikan suku bunga yaitu bisa mengganggu pertumbuhan kredit sektor perbankan.

"Dampak negatifnya memang dikhawatirkan akan menaikkan bunga kredit perbankan, meskipun kecil kemungkinan dalam 1 bulan ini mengingat likuiditas bank masih cukup gemuk. Jika bunga kredit naik, bisa ganggu pertumbuhan kredit yang pada ujungnya membuat laju ekonomi kurang optimal," paparnya.

Untuk itu, Bhima menyarankan agar Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memacu bank lebih efisien dalam penyaluran dana. Agar bunga kredit tidak terkena dampak dari kenaikan suku bunga.

"Semoga itu tidak terjadi. Solusinya BI dan OJK harus terus bekerjasama untuk memacu bank lebih efisien dalam penyaluran dana. Bunga kredit yang masih dobel digit bukan karena bunga acuan saja, tapi lebih disebabkan biaya operasional bank masih tinggi," jelasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak