alexametrics

Wawancara Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia Riko Abdurrahman

Mengakrabkan Cashless Society

loading...
Mengakrabkan Cashless Society
Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia Riko Abdurrahman. FOTO/KORAN SINDO
A+ A-
PEMERINTAH telah mencanangkan gerakan nasional pembayaran nontunai. Dalam mengakrabkan penggunaan nontunai (cashless), sosialisasi telah dilakukan bersama pemangku kepentingan terkait. Visa sebagai pemain global di industri nontunai dengan jaringan yang luas di seluruh dunia telah lama menjadi mitra perbankan swasta dan nasional.Bagaimana Visa melihat program pemerintah melalui pencanangan gerakan nontunai ini? Berikut petikan wawancara KORAN SINDO dengan Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia Riko Abdurrahman di Jakarta belum lama ini.

Sekarang ini eranya cashless society, Anda sebagai salah satu pemain di industri ini melihatnya seperti apa?

Trennya memang sudah harus ke sana, karena berdasarkan survei kami, potensinya itu besar sekali. Ada dua survei kalau tidak salah yang kami punya. Di Jakarta itu, arahnya ke cashlesh society. Akan ada upside sekitar USD4,6 miliar yang dihasilkan. Lantaran efisiensi itu, transaksi jadi lebih cepat. Ekonomi transparansi tercipta sehingga manfaatnya besar sekali. Lalu pada survei Moodys tahun 2016 yang menyebutkan antara 2011-2015 card usage itu berkontribusi sekitar 0,05% ke Produk Domestik Bruto (PDB) kita dan transfer sekitar USD2,17 miliar pertumbuhannya. Itu hampir 63.000 employment per tahun. Itu studinya dan memang dampaknya besar.

Kalau kami lihat Visa memang produknya cashless. Dari dulu, sebelum pemerintah menggerakkan program nontunai, kami sudah melakukannya. Mendorong penggunaan nontunai kepada masyarakat, otomatis dengan adanya gerakan pemerintah ini, kami juga terbantu. Sebab pemain di industri ini juga salah satunya kami yang benar-benar mencoba mendorong ini.



Sejauh mana kolaborasi program pemerintah ini?


Pertama, kami akan selalu menyesuaikan dengan peraturan pemerintah melalui Bank Indonesia (BI), karena kami berkomitmen berperan di industri pembayaran elektronik di Indonesia. Apa pun kebijakan pemerintah, kami akan mendukung.



Apakah program ini bisa 'mengganggu', sebab bisa saja pemerintah akan menerbitkan kartu khusus nontunai?


Saya rasa tidak. Buktinya, kami masih eksis di sini (Indonesia). Itu artinya baik-baik saja. Yang lebih penting, kami dialog dengan semua pemangku kepentingan, semua aturan kami jalankan. Sebab kami berkomitmen mendukung peran pemerintah berkaitan dengan keberlangsungan kami di sini.

Visa sudah sangat lama memiliki teknologi pembayaran nontunai, bisa dijelaskan?

Visa ini technology provider karena kami merupakan perusahaan teknologi. Sedangkan yang mengeluarkan kartunya adalah perbankan. Bank menggunakan teknologi dan jaringan Visa. Namun, kami bukan penerbit kartu. Kami ada di teknologi infrastruktur jaringannya.

Anda sempat berkarier cukup lama di Filipina. Apa bedanya perkembangan industri nontunai di sana dan di Indonesia?

Kalau kita bicara perkembangan negara lain tergantung teknologi yang digunakannya. Ada namanya contactless card, seperti di Singapura dan Australia. Penetrasinya jauh lebih besar. Dua negara itu paling advanced dari segi teknologi pembayaran elektroniknya, bahkan lebih besar dibandingkan di Filipina. Kalau ngomong Indonesia, Vietnam, dan Filipina, menurut saya perkembangan industrinya hampir sama. Terutama Indonesia dengan Filipina itu mirip sekali, mulai dari perilaku konsumen hingga pemerintahnya. Orang sana suka sekali dengan yang namanya mencicil. Regulasinya juga mirip, lingkungannya, macetnya juga sama.

halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak