alexametrics

36 Tahun Pimpin Starbucks, Schultz Mundur

loading...
36 Tahun Pimpin Starbucks, Schultz Mundur
36 Tahun Pimpin Starbucks, Schultz Mundur. (Reuters).
A+ A-
NEW YORK - Starbucks akan kehilangan pemain kunci. Executive Chairman Howard Schultz yang telah berkontribusi selama 36 tahun membangun Starbucks dari kedai kopi kecil menjadi jaringan bisnis global memutuskan mundur.

Schultz yang memiliki pengalaman dan pengetahuan mumpuni mengenai industri makanan dan minuman akan segera meninggalkan Starbucks. Kepergiannya itu meninggalkan keprihatinan mengenai masa depan Starbucks yang sedang melesu dan diterpa skandal rasisme. Para investor yang hadir dalam pertemuan tahunan hanya bersorak setelah mendengar rencana inovasi dan menu Starbucks yang dipimpin CEO Kevin Johnson pada Mei lalu.

Namun sambutan itu beda jauh dibandingkan dengan aplaus bergema dan standing ovation terhadap Executive Chairman Howard Schultz saat naik podium. Schultz tidak akan lama lagi berada di dewan tinggi Starbucks. Setelah diumum kan pada awal bulan ini, dia akan hengkang pada 26 Juni mendatang.

Lelaki berusia 64 tahun tersebut akan menjadi chairman Emeritus. Dia dispekulasikan akan terjun ke dunia politik dan mencalonkan diri menjadi presiden AS pada 2020. “Kepergian Schultz merupakan sebuah kehilangan bagi Starbucks,” kata Managing Director GlobalData kepada cnbc.com.“Peranan, keahlian, dan pengetahuannya dalam bisnis tidak akan dapat tergantikan,” tambahnya.



Schultz telah berhasil membantu Starbucks melakukan ekspansi masif selama 40 tahun terakhir. Selama kepemimpinan Schultz, Starbuck berkembang dari 11 kedai menjadi lebih dari 28.000 gerai. Dia menjadi orang di balik berbagai inovasi, inisiatif sosial, dan ekspansi global.

Dia juga terkenal sangat peduli terhadap karyawan dan membagi keuntungan seperti tunjangan kesehatan, kepemilik ansaham, dan kuliah gratis. Saat menjabat sebagai CEO, Schultz telah memimpin inisiatif global untuk merekrut pasangan veteran, militer hingga pengungsi. “Permasalahan dengan perusahaan multinasional raksasa ialah terikat terlalu kuat terhadap individu tertentu yang membuat keper giannya menjadi lebih monu mental,” kata Dan Hill, CEO Hill Impact.

Di bawah kepemimpinan Schultz, saham Starbucks tumbuh sebesar 21.000% sejak IPO pada 1992. Namun penjualan makanan, minuman, dan merchan dise yang melesu di Amerika Serikat (AS) turut menurunkan saham Starbucks sebesar 13% pada tahun lalu. “Ironisnya, kepergiannya terjadi di saat inovasi sangat diperlukan,” kata Saunders.

Schultz tampak percaya diri dengan kepemimpinan tim yang dia tinggalkan di Star bucks. Dia mengatakan masa depan perusahaan sangat cerah. Dia juga memuji penerusnya, Johnson. Namun Johnson bekerja di balik bayang-bayang Schultz. Keduanya hanya terpisah satu pintu di kantor pusat Starbucks di Seattle.

“Johnson benar-benar tidak melakukan apa pun, kecuali berkomentar terhadap permasalahan yang terjadi di Philadelphia. Saya pikir dia bukan orang yang tepat untuk memimpin tim Starbucks,” tandas Jason Kaplan, CEO JK Consulting. Hampir setahun setelah Johnson mengambilalih kursi CEO, investor dan para pakar masih mencoba mengukur kesuksesan kepemimpinannya.

Beberapa orang memuji inovasi teknologinya dan kemajuan Starbucks di China, sedangkan yang lainnya cemas dengan tren penjualan perusahaan yang terus memburuk. “Saya kira Johnson yang tidak memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan mengenai bisnis makanan dan minuman akan menjadi hambatan besar untuk kemajuan perusahaan,” imbuh Kaplan.

Seperti yang disampaikan Kaplan, Johnson pernah mendapatkan pujian atas reaksi cepatnya mengatasi insiden Starbucks di Philadelphia yang berakhir dengan penangkapan dua orang. Dia bertanggung jawab dan mengkaji kebudayaan serta praktik kerja, memberikan pernyataan yang jelas terhadap karyawan dan pelanggan serta menemui dua orang tahanan itu.

Bagi beberapa orang, hal itu membuktikan Johnson merupakan pemimpin yang tepat untuk Starbucks. Namun Johnson didampingi Schultz yang menunda pensiunnya akibat terjadinya insiden tersebut. “Johnson akan menerima warisan Schultz dan nilai Starbucks yang ingin menjadi tempat lebih baik bagi pelanggan, karyawan, dan masyarakat,” terang Bob Phibbs, CEO Retail Doctor.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak