alexametrics

Negara-Negara Asia Ini Tak Goyang oleh Kenaikan Fed Rate

loading...
Negara-Negara Asia Ini Tak Goyang oleh Kenaikan Fed Rate
Sejumlah kecil negara Asia tidak terlalu terpengaruh oleh naiknya suku bunga AS. Foto/Ilustrasi
A+ A-
HONG KONG - Kebijakan the Fed menaikkan suku bunga telah mengguncang banyak pasar negara berkembang yang mata uangnya kemudian melemah terhadap dolar AS. Namun demikian, ada pula sekelompok kecil ekonomi Asia yang tidak keberatan pelemahan mata uangnya.

Pasar Argentina, Brasil dan Turki menerima pukulan terbesar. Sedangkan di Asia, bank sentral India, Indonesia dan Filipina telah menaikkan suku bunga dan melakukan intervensi untuk mempertahankan nilai tukarnya.

Namun, tidak seperti negara-negara tersebut, yang mengalami defisit neraca berjalan, bank-bank sentral di negara-negara surplus eksternal seperti Thailand, Korea Selatan, Taiwan dan pada tingkat yang lebih rendah, Malaysia, dinilai tidak akan merasa perlu mengikuti kenaikan suku bunga Fed.

"Saya tidak melihat negara-negara itu dipaksa oleh the Fed karena beberapa dari mereka memiliki surplus yang sangat besar sehingga mereka mungkin malah akan senang melihat mata uangnya melemah serta meningkatnya arus modal keluar, pada tingkatan tertentu," kata Frederic Neumann, co-head penelitian ekonomi Asia di HSBC seperti dilansir Reuters, Senin (18/6/2018).

Pasalnya, mata uang yang lebih lemah dari arus keluar portofolio dapat membantu mengangkat inflasi di bawah target dan memberi keuntungan bagi eksportir di saat meningkatnya ketidakpastian atas perdagangan global serta kemungkinan melemahnya ekonomi China.

Pertemuan bank sentral minggu ini di Thailand dan Taiwan kemungkinan akan memperkuat pandangan itu, di mana sebagian besar ekonom melihat paling banyak satu kenaikan suku bunga di Thailand, Taiwan, dan Korea Selatan selama 18 bulan ke depan, dibandingkan dengan lima atau enam kali kenaikan oleh Fed.

Peso Filipina tercatat kehilangan hampir 7% dari nilai tertingginya Januari dan sekarang diperdagangkan pada titik terendah dalam 12 tahun. Rupee India juga mendekati rekor terendah setelah kehilangan jumlah yang sama. Sementara rupiah turun sekitar 5% setelah dua kali kenaikan suku bunga dan intervensi oleh bank sentral.

Sebaliknya, won Korea , baht Thailand dan dolar Taiwan semuanya turun 3% dari level tertinggi Januari dan sementara bank sentral masing-masing mempertahankan suku bunganya tetap stabil di dekat rekor terendah.

Salah satu alasan mengapa negara dengan ekonomi surplus tidak mendapat tekanan sebesar negara-negara yang neraca berjalannya defisit adalah posisi investor asing. Di negara-negara defisit, investor cenderung memiliki obligasi jangka pendek, yang lebih likuid dan kurang berisiko daripada utang jangka panjang. Di negara-negara dengan surplus, investor lebih nyaman memegang surat berharga jangka panjang.

Saat the Fed mulai menaikkan suku bunga sekitar tiga tahun lalu, premi yang ditawarkan oleh obligasi jangka pendek India dan Indonesia telah turun sekitar 200 basis poin. Di Filipina, premi telah turun hampir dalam jumlah yang sama selama 12 bulan terakhir.

Perbedaan itu telah menyempit sekitar 200 bps di Korea Selatan, Thailand dan Taiwan juga dan bahkan berubah negatif. Namun, preferensi lebih besar investor untuk utang jangka panjang telah membantu membatasi tekanan mata uang ke bawah.

Alasan lain mengapa bank-bank sentral tidak harus mengikuti langkah the Fed adalah bahwa kebangkitan China sebagai kekuatan ekonomi utama berarti bahwa Asia kurang disinkronkan dengan siklus AS daripada sebelum krisis keuangan global.

Runtuhnya Lehman Brothers pada tahun 2008 bertepatan dengan momen ketika perdagangan Asia dengan China melampaui nilai perdagangan dengan Amerika Serikat. Oleh karena itu, perlambatan momentum ekonomi di China mungkin memiliki lebih banyak dampak pada outlook laju ekonomi di Asia daripada siklus ekonomi AS.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak