alexametrics

Baron Noorwendo, Pendiri Komunitas WPL

Potensi Ada di Rumah Sendiri

loading...
Potensi Ada di Rumah Sendiri
Potensi Ada di Rumah Sendiri. (Istimewa).
A+ A-
DEPOK - Komunitas Warga Peduli Lingkungan (WPL) yang digagas Baron Noorwendo mampu menginspirasi daerah lain untuk ikut memaksimalkan potensi warganya.

Masyarakat jadi memiliki cara untuk mengais rezeki tanpa harus pergi jauh meninggalkan rumah. Membina kelompok warga tidaklah mudah. Namun, Baron punya banyak cara dan cerita mengenai hal itu. Apa saja usaha yang dilakukan pria 48 tahun ini dalam membantu warga menciptakan lapangan pekerjaan untuk mereka sendiri? Inilah cerita Baron kepada KORAN SINDO.

Bisa dijelaskan apa itu Warga Peduli Lingkungan?
Komunitas yang saya bangun di wilayah rumah saya di Kampung Pitara, Pancoran Mas, Depok. Jadi ini pemberdayaan potensi lokal, fokus pada manusia dan lingkungannya. Semua bermula dari pemikiran saya, orang kalau mau dapat uang kenapa harus pergi keluar rumah atau keluar wilayahnya? Padahal potensi ada di dalam rumah itu sendiri atau lingkungannya.

Banyak sebetulnya yang bisa diusahakan, sehingga mereka bisa dapat penghasilan. Saya memulai komunitas ini pada 2003 di satu RT tempat tinggal saya yang terdiri dari 150 rumah tangga.

Saya mengajak masyarakat untuk belajar bermacam-macam usaha, seperti laundry kiloan, budi daya jamur, telur asin, dan lainnya. Namun, enam tahun pertama tidak ada masyarakat yang menyerap ide usaha itu. Saya memang modal nekat. Tidak ada ilmunya. Cuma tujuan saya ingin bagaimana caranya punya program yang melibatkan warga sekitar.

Apa yang Anda lakukan sampai konsep WPL bisa berkembang?
Saya terus melakukan evaluasi. Ternyata yang saya lakukan selama itu hanya sok tahu, membawa satu hal baru kepada masyarakat. Ternyata ini tidak cocok untuk mereka, tidak cocok dengan kebutuhan mereka juga pemahaman mereka. Kemu dian pada 2009, saya mulai dari masalah yang ada di tempat kami.

Saat itu, selalu ada yang terkena demam berdarah. Dari 2009 itu, Alhamdulillah, kami bisa dapatkan banyak program, salah satunya untuk mencegah demam berdarah de ngan cara memilah sampah. Dari situ juga kami menemukan bahwa warga di sini punya keahlian membuat kerajinan. Jadi memang kuncinya memberikan sesuatu yang mereka suka dulu.

Warga ternyata pintar mem buat anyaman ataupun jahitan. Tadinya yang mereka anyam itu daun pandan. Namun, lama-kelamaan kebun daun pandannya tidak ada. Akhirnya di ubah lah daun pandan menjadi sampah plastik. Mereka yang ahli menjahit juga ikut berkontribusi. Dulu hanya menjahit baju, sekarang bisa jahit untuk dijual kembali.

Warga juga jadi ada kesadaran memilah sampah dari awal. Mereka sudah paham kalau sampah harus dipilih sebelum tercampur dengan sampah lain. Ada tim ibu-ibu lain yang merasa tidak terampil membuat kerajinan, lalu kita kembangkan kekuliner. Saya mencari pelatih yang sesuai. Ada teman saya yang istrinya dosen tata boga di UNJ. Beliau bersedia mengajarkan saya dan akhirnya berkembang seperti sekarang.

Apa saja program Komunitas WPL?
Kami punya tiga program. Pertama literasi. Literasi merupakan dasar memajukan masyarakat. Kami bekerja sama dengan para penggiat literasi di Kota Depok. Kami buka taman bacaan di Perumnas 1 Depok. Sekarang kami juga punya sekolah menulis dan program Depok Menulis.

Kami merekrut warga dari 11 kecamatan di Depok untuk mengikuti kelas menulis. Kami sekarang sedang menulis buku bersama anggota-anggota yang bergabung. Untuk program literasi, kami juga mengumpulkan buku. Buku baru atau bekas kami salurkan ke taman bacaan masyarakat di Depok.

Kami ingin meningkatkan minat baca, gemar baca, dan budaya baca. Juga menulis buku. Program kedua, lingkungan hidup. Kami membuat teras kehidupan. Komunitas WPL menyiapkan modul-modul yang bisa kami sampaikan untuk berbagai kalangan mulai dari balita sampai dengan dewasa. Mengenai caranya, mengelola lingkungan mulai dari hal terkecil di rumah, sekolah, dan kantor.

Peserta bisa datang ke kami atau kami yang mendatangi mereka. Program ketiga, pemberdayaan. Ini lebih pada entrepreneurship. Kami dari awal tidak dapat dana dari manapun. Jadi kami swadaya sendiri. Pemberdayaan bukan hanya di bidang kerajinan ataupun kuliner, tapi merambah ke pertanian.
halaman ke-1 dari 4
preload video

BERITA TERKAIT

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak