alexametrics

Freeport Resmi Lepas 51% Saham Berpotensi Bikin Rupiah Stabil

loading...
Freeport Resmi Lepas 51% Saham Berpotensi Bikin Rupiah Stabil
Kesepakatan PT Freeport Indonesia (PTFI) melepas 51% saham mereka kepada pemerintah Indonesia diyakini menjadi sentimen positif bagi pasar dan nilai tukar rupiah. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Kesepakatan PT Freeport Indonesia (PTFI) melepas 51% saham mereka kepada pemerintah Indonesia diyakini bakal menjadi sentimen positif bagi pasar. Setelah melalui proses yang panjang, tuntasnya divestasi saham PTFI berpotensi menguat rupiah yang dalam beberapa pekan terakhir seperti diketahui ambruk hingga menyentuh level terburuknya.

"Jangka panjangnya bisa membuat rupiah stabil dari sisi sentimen ekonomi. Dengan adanya proses kesepakatan membuat sentimen positif dan pemerintah Indonesia memiliki peluang dalam memajukan ekonomi," ujar Peneliti Institut for Development of Economics and Finance (Indef) Abrar P.G Talattov saat dihubungi SINDOnews di Jakarta.

Lebih lanjut Ia menerangkan, bahwa pengambilan saham mencapai 51% ini akan meningkatkan investasi di Indonesia dan memberikan angin segar bagi para investor untuk  manaruh dananya di Indonesia. "Sentimen positif dan investor asing dan modal akan kembali dan masuknya investasi asing, maka nilai tukar rupiah terapresiasi. Ini upaya pemerintah dalam menjga ekonomi," jelasnya.

Dia pun berharap dengan pengambilan saham ini makin memperkuat ekonomi Indonesia dan bisa membuat neraca perdagangan menjadi surpuls dari segi ekspor. "Soalnya Freeport ini merupakan usaha tambang yang besar di dunia dan bisa membantu ekonomi Indonesia biar tidak defisit dalam neraca perdangan yang terjadi dalam dua bulan terakhir," paparnya.

Sebagai informasi tercatat bahwa tambang Grasberg merupakan tambang emas terbesar di dunia dan tambang tembaga terbesar ke-2 di dunia, dengan potensi pengelolaan tambang mencapai lebih dari 30 tahun. Nilai tambah komoditi tembaga dapat terus ditingkatkan melalui pembangunan smelter tembaga dengan kapasitas 2-2,6 juta ton per tahun dalam lima tahun ke depan.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak