alexametrics

Fajeri Hidayat Wirausahawan, Membawa UKM Go Online

loading...
Fajeri Hidayat Wirausahawan, Membawa UKM Go Online
Fajeri Hidayat Wirausahawan, Membawa UKM Go Online. (Istimewa).
A+ A-
JAKARTA - Tekanan dari atasan atau pekerjaan yang menumpuk sering kali menjadi alasan seseorang banting setir dari karyawan menjadi pengusaha.

Tidak ada kata terlambat untuk berpindah profesi. Seperti dilakukan Fajeri Hidayat. Malah setelah keluar dari pekerjaannya, lelaki asal Banjarmasin ini merasa memiliki niat kuat serta misi memajukan usaha kecil-menengah (UKM) di Indonesia, terutama wilayah Kalimantan Selatan.

Usaha yang dilakukan Fajeri adalah mengajarkan para pelaku UKM untuk melebarkan sayap dengan berjualan daring dan memanfaatkan platform marketplace. Berkat ketekunan dan dedikasinya, marketplace lokal terbesar di Indonesia, Bukalapak, menganugerahi penghargaan kepadanya sebagai Jawara pada awal 2018.

Mengapa Bukalapak memilih Fajeri? Apa pula yang sudah dilakukannya untuk para pelaku UKM di Kalimantan Selatan dan bagaimana potensi perdagangan daring sekarang di daerah? Inilah cerita Fajeri kepada KORAN SINDO.



Anda terpilih sebagai Jawara dari marketplace Bukalapak. Bisa diceritakan mengenai penghargaan ini?

Saya berjualan lampit atau tikar rotan sejak 2015, bermula dari website hingga beralih ke marketplace Bukalapak. Awal 2018 Bukalapak melihat dari kriteria yang mereka tentukan, seperti aktif dan sukses memasarkan produk lokal, baik sebagai produsen maupun distributor/reseller,serta aktif mengembangkan Komunitas Bukalapak di daerah.

Terakhir, saya juga dinilai aktif memberdayakan penduduk sekitar untuk pengembangan potensi usaha. Mereka menyebut “Jawara” bagi pelapak yang punya penilaian tersebut. Selain itu, saya juga mendapat Ranger Jawara atau Koordinator Lapangan Terbaik, dan Banjarmasin men jadi Kota Jawara Komunitas Terbaik di Regional 3 yang meliputi Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan NTB.

Bagaimana awal mula Anda bisa berbisnis online?
Saya dulu manajer cabang di sebuah perusahaan besar Indonesia. Saya mengepalai empat kota: Samarinda, Ternate, Denpasar, dan Banjarmasin dengan 50 sales.Saat itu perusahaan saya yang bergerak di bidang jasa satelit berbayar sedang ada perubahan satelit, sehingga jasa yang ditawarkan banyak mengalami kendala.

Hal tersebut berdampak pada komplain dari banyak pelanggan, yang membuat saya stres. Ya, namanya masih kerja ikut orang, pasti selalu ditekan atasan dengan targettar get yang harus kita penuhi. Kemudian, saya lihat ada seseorang yang keluar dari pekerjaan dan membuka usaha.

Saya mencoba mengikuti jejak dia, keluar dari pekerjaan pada 2009. Saya ikut usaha ekspe di si alat berat. Cukup bagus perkembangannya selama sembilan bulan, tapi harus bangkrut karena kami tidak punya armada. Tiga bulan tidak punya penghasilan, saya yang merasa kepepet mulai berpikir untuk menghasilkan uang dari internet.

Saya ikut pelatihan internet marketing pada 2010. Saya juga mulai mencari barang yang ingin saya jual. Kebetulan saat masih kuliah di Jawa dulu, teman-teman suka titip lampit rotan. Dari situlah saya membuat website gratisan dan baru ada yang memesan tiga bulan kemudian.

Dari website gratisan hingga berbayar, saya mencoba terus sampai menemukan marketplace Bukalapak pada 2015. Penjualan memang lebih mudah di sana. Saya juga mencari produk lain yang bisa dijual. Di situlah saya bertemu UKM asli Kalimantan Selatan. Dari mulai menjualkan hingga saya mengajarkan mereka secara langsung agar bisa jualan online dan memperluas jangkauan pembeli.
halaman ke-1 dari 4
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak