alexametrics

Gila-Gilaan, Inflasi Venezuela Tahun Ini Diprediksi 1.000.000%

loading...
Gila-Gilaan, Inflasi Venezuela Tahun Ini Diprediksi 1.000.000%
Warga Venezuela belanja di Kolombia akibat krisis yang kian parah di negaranya. Foto/Reuters
A+ A-
TORONTO - Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memproyeksikan laju inflasi Venezuela tahun ini akan mencapai 1.000.000%. Itu berarti negara di Amerika Selatan tersebut berada di jalur menuju krisis hiperinflasi terburuk dalam sejarah modern.

Perekonomian Venezuela kolaps dan terus memburuk sejak merosotnya harga minyak mentah dunia pada 2014 lalu. Kejatuhan harga minyak membuat negara sosialis itu tidak mampu lagi mempertahankan sistem subsidi dan kontrol harga yang diterapkan selama ini.

"Kami memproyeksikan lonjakan inflasi hingga 1.000.000% pada akhir 2018. Itu memberi sinyal bahwa situasi Venezuela mirip dengan di Jerman pada tahun 1923 atau Zimbabwe pada akhir tahun 2000-an," ujar Direktur Departemen Bagian Barat IMF Alejandro Werner seperti dilansir Reuters, Selasa (24/7/2018).



Harga konsumen telah meningkat 46,305% tahun ini, menurut legislatif yang dikendalikan oposisi, yang mulai menerbitkan data inflasi sendiri pada 2017 setelah bank sentral negara itu menghentikan rilis data ekonomi.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan bahwa negara itu menjadi korban perang ekonomi yang dilancarkan oleh bisnis oposisi yang didukung Washington.

Karena itu, pemerintahannya pun secara rutin mengesampingkan IMF sebagai pion Washington yang menempatkan kepentingan para pemodal kaya di atas negara-negara berkembang.

Di bagian lain, para kritikus oposisi mengatakan bahwa masalah Venezuela adalah akibat dari kebijakan yang buruk, termasuk perluasan pasokan uang dan kontrol mata uang yang tidak terkendali yang membuat bisnis tidak dapat mengimpor bahan baku dan suku cadang mesin.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak