alexametrics

Kebijakan Gula Kemendag Dinilai Tak Pro Bulog

loading...
Kebijakan Gula Kemendag Dinilai Tak Pro Bulog
Kebijakan Kemendag yang menugaskan BUMN pangan ini membeli gula dari petani lokal dengan patokan harga tertentu menjadi sorotan, lantaran dinilai tak pro Bulog. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Bulog disarankan untuk menyikapi dengan hati-hati kebijakan Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang menugaskan BUMN pangan ini membeli gula dari petani lokal dengan patokan harga tertentu. Kebijakan pemerintah ini akan membuat Bulog rugi.

"Bulog jangan sampai dijorokin pemerintah atau Mendag. Sangat dilematis ketika harga gula tinggi Bulog dipaksa beli gula dari petani dengan harga tinggi. Tapi di satu sisi Mendag terus saja memberikan ijin impor raw sugar kepada importir gula," kata anggota Komisi VI DPR Nasril Bahar di Jakarta, Senin (6/8/2018).

Ia menilai, janji-janji Mendag selama ini yang menyatakan akan membuat kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan petani tebu dan memproteksi harga gula untuk kepetingan masyarakat, bertolak belakangan dengan kebijakan yang dibuat di lapangan.



"Kebijakan Mendag yang mengizinkan impor raw sugar besar-besaran jelas sangat paradoks dengan kebijakan untuk melindungi petani dan memproteksi harga gula. Pada akhirnya sekarang ini baik petani ataupun Bulog sama-sama susah. Petani dan Bulog dua-duanya menderita karena kebijakan Mendag yang tak sinkron," ujarnya.

Menurutnya, yang diuntungkan atas kebijakan gula pemerintah saat hanya adalah importir gula raw sugar dan pengusaha yang mengolah raw sugar menjadi gula kristal putih . Sebab, importir dan pengusaha tersebut mengambil keuntungan dari impor raw sugar dan pengolahannya raw sugar menjadi gula kristal putih. Sementara, gula kristal putih buatan petani lokal harganya cenderung lebih tinggi.

"Pengusaha samurai yang memperoleh keuntungan dari impor raw sugar selama ini tidak mau mengambil gula ataupun tebu petani lokal. Mereka lebih untung beli gula impor raw sugar untuk diolah menjadi gula kristal putih," cetusnya.

Nasril menambahkan perlu ada tindakan khusus dari Presiden Joko Widodo untuk melindungi petani gula dan Bulog saat musim panen. Jangan sampai kebijakan Mendag seolah-olah dianggap sebagai kebijakan dari pemerintahan Presiden Joko Widodo.

"Bulog harus waspada melakukan off taker gula. Sepanjang tidak ada proteksi impor gula dari Mendag, maka Bulog akan rugi terus. Sedangkan, petani juga tidak akan mendapatkan untung dari patokan harga gula yang nanggung dari pemerintah sebesar Rp 9.700," katanya.

Politisi PAN ini juga menerangkan, impor gula raw sugar sudah melampaui batas. Selain itu, terjadi patgulipat impor raw sugar. "Persoalan gula merupakan permainan pengusaha pemburu selisih harga impor raw sugar dan importir. Sedangkan, petani gula tebu biaya untuk produksi gula semakin tinggi karena tidak ada perhatian dari pemerintah. Jadi sekarang petani kita pada lesu," pungkasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak