alexametrics

Sanksi ke Iran Merupakan Sanksi Paling Menggigit yang Pernah Dikenakan

loading...
Sanksi ke Iran Merupakan Sanksi Paling Menggigit yang Pernah Dikenakan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Hassan Rouhani. Foto/Istimewa
A+ A-
WASHINGTON - Amerika Serikat pada Selasa (7/8/2018) memutuskan kembali memberi sanksi terhadap Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan sanksi ekonomi alias sanksi pertama terhadap Iran karena Negeri Mullah tersebut dianggap "mengancam dan merusak kestabilan di Timur Tengah".

Sanksi ini diterapkan setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran di bulan Mei lalu. Mengutip dari Reuters, Donald Trump menyatakan sanksi terhadap Iran adalah sanksi paling menggigit yang pernah dikenakan.



"Pada bulan November, mereka akan kena sanksi ke tingkat lain. Siapa pun yang berbisnis dengan Iran tidak akan berbisnis dengan Amerika Serikat. Saya hanya meminta dunia damai, tidak kurang dari itu!," tulis Trump dalam akun Twitternya.

SkyNews pada Selasa ini menulis, sanksi pertama AS menargetkan transaksi keuangan yang melibatkan dolar AS, sektor otomotif Iran, pembelian pesawat komersial, ekspor logam dan emas. Dan 5 November mendatang, AS akan menerapkan sanksi terhadap sektor minyak dan bank sentral Iran.

Menanggapi sanksi terbaru, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan sanksi AS tersebut bertujuan menciptakan kekacauan di Iran.

Ahmad Majidyar, direktur IranObserved Project di Middle East Institute, mengatakan sanksi terbaru dari Amerika semakin menekan ekonomi Iran. "Sebelum sanksi ini diberlakukan, ekonomi Iran yang rentan telah dirusak oleh penarikan AS dari kesepakatan nuklir," ujarnya kepada Al Jazeera, Selasa (7/8/2018).

Ia menambahkan, rakyat Iran akan menjadi orang yang paling menderita dari sanksi ekonomi ini. Mata uang Iran telah kehilangan sekitar setengah dari nilainya sejak Trump mengumumkan AS menarik diri dari pakta nuklir Iran.

"Selama beberapa bulan terakhir, rial Iran telah jatuh bebas. Inflasi telah melambung, pengangguran telah meningkat, dan yang paling penting, banyak orang telah kehilangan harapan," kata dia.

Untuk mengantisipasi sanksi, sambung Majidyar, banyak pebisnis di Iran telah mengalihkan aset dan modal mereka ke luar negeri, sehingga situasi ekonomi semakin memburuk.

Penerapan sanksi yang sudah diumumkan sejak Mei lalu, telah meningkatkan ketegangan di dalam negeri Iran. Hampir setiap hari pemandangan unjuk rasa dan pemogokan terjadi di kota-kota di Iran. Sebagian rakyat marah atas keburukan ekonomi, harga yang melambung tinggi dan sistem politik pemerintahan Rouhani.

Berikut sanksi tahap pertama Amerika Serikat terhadap Iran
Larangan menjual pesawat ke Iran
Sanksi ekonomi AS terhadap Iran mencakup membatalkan kontrak pembelian 80 unit pesawat Boeing senilai USD17 miliar kepada maskapai Iran Air dan 30 unit pesawat senilai USD3 miliar kepada Aseman Airlines.

Selain itu, Airbus, perusahaan pabrikan pesawat yang bermarkas di Prancis juga harus membatalkan kontrak USD19 miliar untuk menjual 100 unit pesawat ke Iran Air. Sebanyak 10% saham Airbus sendiri dimiliki oleh Amerika Serikat. Sebelum sanksi diterapkan, Airbus telah mengirim 3 unit pesawat ke Iran Air.

Kedua pabrikan pesawat ini memutuskan membatalkan kontrak mereka dengan maskapai Iran setelah mendapat teguran keras dari Departemen Keuangan Amerika. Larangan ini membuat Iran kesulitan untuk meremajakan bisnis penerbangan mereka.

Larangan menjual karpet
Mengutip dari Al Jazeera, pada tahun fiskal 2017 yang berakhir 20 Maret 2018, Iran diperkirakan mengekspor karpet senilai USD424 juta. Penjualan ini naik 18,11% dari tahun fiskal sebelumnya. Jumlah tersebut setara dengan 5.500 ton karpet tenunan tangan.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak