alexametrics

RI Antisipasi Dampak Krisis Ekonomi Turki

loading...
RI Antisipasi Dampak Krisis Ekonomi Turki
A+ A-
JAKARTA - Krisis ekonomi di Turki diharapkan tidak berdampak buruk terhadap perekonomian di Tanah Air. Munculnya kekhawatiran akibat krisis di negara Eropa yang berbatasan dengan Asia itu hendaknya tidak disikapi secara berlebihan.

Meski demikian, sebagai antisipasi pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuang an (OJK) dan Bank Indonesia (BI) akan terus berkoordinasi guna mengurangi dampak krisis Turki yang berawal dari gejolak mata uangnya, lira. Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, kondisi perekonomian Indonesia berbeda dengan Turki yang tengah dilanda kekhawatiran krisis ekonomi akibat gejolak pasar keuangan. Indonesia punya hal-hal positif yang di lihat dalam sepekan terakhir.

“Pertumbuhan kita kuat, inflasi rendah, dan defisit APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) diperkirakan lebih rendah,” kata Sri Mulyani di Tangerang, Banten, kemarin.

Menurutnya, dampak dari adanya kekhawatiran krisis ekonomi di Turki akibat penurunan mata uang lira masih sebatas persepsi. Akan tetapi, kata Sri, pemerintah akan tetap mewas padai dan berkoordinasi dengan pihak lain seperti BI dan OJK. Sebagaimana dilansir Reuters, mata uang lira mencapai titik terendah sepanjang sejarah, yakni 7,24 lira per dolar AS. Nilai mata uang lira mengalami penurunan hingga 40% terhadap dolar sepanjang tahun ini.



Pada Jumat (10/8), nilai tukar lira terhadap dolar AS bahkan anjlok 20%. Penurunan nilai tukar lira itu memicu ke khawatiran nasib pemerintahan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang berjanji menurunkan bunga bank.

Banyak pihak menilai, memburuknya nilai lira berkaitan dengan memanasnya hubungan Turki dengan Amerika Serikat (AS). Hal itu membuat investor Eropa dan AS mengamati dengan teliti fenomena tersebut. Kehancuran lira juga memengaruhi mata uang lain di Asia dan mata uang lain seperti franc (Swiss), dan yen (Jepang).

Selain itu, mayoritas indeks saham di Asia dan Eropa juga mengalami penurunan. Indeks Nikkei 225 di Tokyo turun 440,65 poin atau 1,98% dibanding penutupan Jumat (10/8). Indeks Hang Seng juga turun 430 poin (-,52%). Kemudian Kospi Korea melemah 34,34 pon (-1,5%). Di dalam negeri, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia juga anjlok ke zona merah dengan kehilangan 216 poin atau -3,55% ke level 5.861,2.

Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi sempat turun 157 poin menjadi Rp14.643 dibanding pada posisi Jumat (10/8) yakni Rp14.437 per dolar AS. Pada sore harinya, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah ditutup pada kisaran Rp14.583 per dolar AS.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro juga meyakini kondisi perekonomian Indonesia saat ini lebih baik dibandingkan Turki kendati rupiah melemah dan menembus level Rp14.600 per dolar AS.

“Kita harus melakukan rasionalisasi yang baik, sehingga terlihat bedanya Indonesia dengan Turki. Saya yakin kita dalam posisi yang lebih baik dibandingkan dengan Turki,” ujarnya.

Menurut Bambang, BI relatif lebih independen dibandingkan Bank Sentral Turki (The Central Bank of Republic of Turkey/ CBRT), yang mendapatkan intervensi dari pemerintahnya. “Yang penting kita menjaga stance, posisi kita, bahwa bank sentral itu independen.

Kedua, inflasi terkendali. Karena Turki itu double digit inflasinya, kitakan 3-4%. Ketiga, kestabilan makro kita relatif terjaga,” katanya. Presiden Erdogan menuding krisis moneter di negaranya merupakan imbas dari kebijakan AS yang dituding sebagai upaya menikam dari belakang. Pekan lalu, AS memberlakukan sanksi kepada Turki karena menolak membebaskan pendeta Andrew Brunson yang ditahan. Sanksi itu memanaskan pasar saham dan keuangan Turki.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak