alexametrics

Dunia Belum Siap Hadapi Krisis Keuangan Lagi

loading...
Dunia Belum Siap Hadapi Krisis Keuangan Lagi
Dunia dinilai belum siap untuk menghadapi krisis keuangan bila terulang kembali, lantaran dengan perang dagang membuat tidak ada lagi semangat kerja sama. Foto/Ilustrasi
A+ A-
LONDON - Peringatan krisis keuangan yang apabila bisa terjadi lagi, bakal berdampak sangat buruk dibandingkan sebelumnya seperti dilontarkan oleh Mantan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown. Menurutnya dunia belum siap untuk menghadapi krisis keuangan yang terulang kembali.

Lebih lanjut dia menerangkan, alasannya dampak lebih buruk yang bisa ditimbulkan oleh krisis apabila benar kembali terjadi. Lantaran keretakan dalam kerja sama Internasional yang berarti membuat negara-negara tidak bisa bertindak dengan cara kolektif untuk mengatasi ancaman di masa depan yang semakin banyak.

"Saya merasa kita (dunia) sedang tertidur dalam krisis (keuangan) berikutnya," ucap Brown, yang berbicara dalam peringatan 10 tahun krisis keuangan yang sempat menimpa dunia.

Dia menambahkan, bahwa beberapa bankir yang terlibat harus dicebloskan ke penjara. "Ini adalah dunia tanpa pemimpin dan saya pikir ketika krisis berikutnya datang, dan akan ada krisis di masa depan. Kita akan menemukan bahwa tidak memiliki ruang fiskal atau moneter untuk manuver atau kesediaan untuk mengambil tindakan tersebut," paparnya.



"Tapi mungkin yang paling mengkhawatirkan, kita tidak akan memiliki kerja sama internasional yang diperlukan untuk mengeluarkan kita dari krisis dunia," ucapnya memberi peringatan terhadap potensi krisis keuangan global.

Sesaat setelah runtuhnya raksasa perbankan Wall Street, Lehman Brothers, pemerintah Inggris menjadi salah satu yang pertama kali meredam dengan menekan penggunaan uang publik untuk merekapitalisasi bank gagal serta memompa dana pembayar pajak ke Lloyds, HBOS dan RBS.

Brown, Perdana Menteri Inggris mengatakan krisis dapat ditahan dimana kebijakan itu untuk melawan penguapan kepercayaan di pasar dengan tindakan terkoordinasi antara pemerintah dan regulator yang saling percaya.

"Tapi sekarang dengan perang dagang, perselisihan tentang perubahan iklim, kesepakatan nuklir yang telah runtuh. Membuat tidak ada lagi semangat kerja sama, yang ada hanya perpecahan dan proteksionisme dan saya khawatir krisis baru akan membuat negara-negara mencoba mengalihkan kesalahan ke satu sama lain," terang dia.

Dia mengakui bahwa penggunaan uang publik untuk menyelamatkan bankir berpenghasilan tinggi adalah pil yang sulit bagi publik untuk ditelan dan meskipun dia bersikeras hal itu diperlukan Ia mengatakan bahwa dirinya frustrasi, dimana hukuman yang lebih keras tidak dished kepada beberapa bankir yang terlibat.

"Saya akan jujur dengan Anda. Beberapa dari para bankir ini seharusnya masuk penjara dan sampai kita memiliki hukum yang tepat yang dapat menemukan kesalahan dan menunjukkan ada hukuman yang jelas. Maka orang akan berpikir para bankir telah lolos dan akan kembali melakukan hal yang sama lagi," tegasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak