alexametrics

BNP Paribas Nilai Prospek Ekonomi Turki Masih Baik

loading...
BNP Paribas Nilai Prospek Ekonomi Turki Masih Baik
BNP Paribas menegaskan tidak akan keluar dari Turki meski negara itu tengah dibelit kesulitan ekonomi. Foto/Ist
A+ A-
SINGAPURA - Terlepas dari masalah ekonomi yang dihadapi Turki, BNP Paribas menilai negara itu tetap sebagai sebuah pasar yang besar. Karena itu, bank internasional tersebut tidak berniat untuk keluar dari Turki.

"Turki adalah negara yang hebat dan ekonominya luar biasa," ungkapĀ  Chairman BNP Paribas Jean Lemierre seperti dikutip CNBC, Jumat (14/9/2018).

Lemierre mengakui, saat ini Turki tengah dibelit kesulitan. Namun dia yakin pemerintah negara itu mampu menghadapi serta mengatasi kesulitan tersebut.

BNP Paribas memiliki eksposur terbesar ke Turki di antara bank-bank Eropa. Menurut Reuters, bank asal Prancis itu menguasai 72% dari Economic Bank of Turkey, sebagian melalui perusahaan patungan lokal.



Masalah Turki menjadi pusat perhatian bulan lalu setelah mata uangnya, lira, terdepresiasi tajam. Bank sentral negara itu Kamis (13/9) lalu menaikkan suku bunga sebesar 6,25 basis poin menjadi 24% dalam upaya untuk membendung penurunan lebih lanjut mata uangnya.

Menurut Lemierre, itu adalah langkah yang tepat untuk diambil. "Mereka telah mengambil keputusan yang berani, dan serius, dan sangat penting," katanya. "Turki harus bereaksi, dan mereka telah bereaksi, dan saya pikir mereka telah mengambil langkah-langkah yang tepat pada saat mata uang melemah dan melemah."

Masalah di Turki juga menimbulkan kekhawatiran bahwa kejatuhan ekonomi negara itu dapat menular ke pasar negara berkembang lainnya. Terlebih saat ini investor lebih menyukai aset Amerika karena dolar AS yang makin kuat.

Di antara sejumlah negara berkembang, rubel Rusia dan rand Afrika Selatan telah menjadi korban dari kekhawatiran tersebut di mana keduanya terdepresiasi hingga hampir 20% terhadap dolar AS tahun ini. Di Asia, rupee India dan rupiah Indonesia turun masing-masing 12% dan 9% terhadap dolar AS.

Terlepas dari risiko yang dihadapi negara-negara berkembang itu, Lemierre mengatakan, banyak negara berkembang juga memiliki dasar ekonomi yang kuat.

"Saya tidak percaya bahwa kita melihat atau kita menghadapi krisis pasar berkembang. Ada ketegangan terhadap beberapa negara, kita tahu mereka: Turki, Argentina. Ada ketegangan di beberapa negara tapi ini bukan krisis yang luar biasa, terutama di Asia - saya lakukan tidak melihat kesulitan khusus di Asia," tandasnya.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak