alexametrics

Kimia Farma Siap Ekspor Obat Pengganti Morfin

loading...
Kimia Farma Siap Ekspor Obat Pengganti Morfin
PT Kimia Farma (Persero) Tbk tidak menutup kemungkinan untuk untuk mengekspor obat bius berbasis nuklir pengganti morfin apabila ada permintaan. Foto/Arif Budianto
A+ A-
BANDUNG - PT Kimia Farma (Persero) Tbk bakal mempertimbangkan, untuk mengekspor obat bius berbasis nuklir pengganti morfin T Bone Kaef bila ada permintaan dari negara lain. Badan Tenaga Nuklir Indonesia (Batan) dan Kimia Farma menemukan obat penghilang rasa sakit pengganti morfin bagi penderita kanker. Obat tersebut bernama T Bone Kaef itu dihasilkan dari senyawa nuklir.

Business Development Director Kimia Farma Pujianto mengatakan, pihaknya siap bila ada permintaan ekspor dari negara lain untuk obat bius pengganti morfin. Walaupun, untuk memenuhinya harga obat tersebut akan cukup mahal. “Waktu paruh obat ini hanya 46 jam, sehingga kalau diekspor biayanya akan sangat mahal. Tapi kalau mereka membutuhkan kenapa tidak,” kata Pujianto di Bandung, Senin (17/9/2018).

Namun demikian, dia mengaku, untuk tahap awal pihaknya akan memprioritaskan pasar domestik. Saat ini baru empat rumah sakit di Indonesia yang bisa melayani obat pengganti morfin ini. Keterbatasan alat dan tenaga medis ahli nuklir menjadi penyebab hanya sedikit rumah sakit yang bisa melayani produk ini.



Dari sisi potensi, kata dia, pasar domestik masih terbuka lebar. Saat ini, obat bius penyakit kanker hingga tulang nyaris seluruhnya menggunakan morfin. Penggunaan morfin dilakukan dua hingga empat hari secara berulang. Dosis yang diberikan juga terus meningkat.

Diketahui, Badan Tenaga Nuklir Indonesia (Batan) dan Kimia Farma menemukan obat penghilang rasa sakit pengganti morfin bagi penderita kanker. Obat bernama T Bone Kaef itu dihasilkan dari senyawa nuklir. Produk tersebut merupakan hasil pengembangan Kimia Farma bersama Batan. T Bone Kaef diteliti dan dikembangkan selama 10 tahun hingga mendapat ijin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Obat dijual Rp3 juta per dosis untuk penggunaan sekitar 40 hari.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak