alexametrics

Dolar Terjebak di Dekat Posisi Terburuk, Rupiah Berakhir Pulih

loading...
Dolar Terjebak di Dekat Posisi Terburuk, Rupiah Berakhir Pulih
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) berangsur pulih saat dolar masih terjebak mendekati level terburuknya lawan enam mata uang utama. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) berangsur pulih untuk menunjukkan perlawanan setelah sempat tertekan hingga kembali menyentuh level Rp14.900/USD. Sinyal kebangkitan mata uang Garuda pada sesi akhir perdagangan, Kamis (20/9/2018) terjadi saat kekuatan dolar mulai memudar.

Data Yahoo Finance menunjukkan rupiah di sesi akhir perdagangan membaik menjadi Rp14.840/USD saat berhadapan dengan USD dibanding penutupan sebelumnya Rp14.871/USD. Rupiah bergerak pada level Rp14.810 hingga Rp14.870/USD.



Menurut data Bloomberg di sesi sore perdagangan, rupiah bangkit ke level Rp14.849/USD atau mulai menanjak naik dari penutupan kemarin Rp14.875/USD. Pergerakan harian rupiah berada di kisaran Rp14.820-Rp14.854/USD.

Berdasarkan data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah sore ini berbalik menguat ke posisi Rp14.845/USD atau lebih baik dari sebelumnya Rp14.905/USD. Rupiah terus untuk mencoba keluar dari tekanan dibandingkan sesi sebelumnya.

Posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, hari ini tertahan pada tren perbaikan menuju level Rp14.839/USD. Posisi ini menunjukkan rupiah pulih dibandingkan posisi penutupan kemarin Rp14.896/USD.

Dilansir Reuters, Dolar masih terjebak di dekat level terburuk dalam tujuh pekan terhadap enam mata utama lainnya seiring memudarnya kekhawatiran perang dagang Amerika Serikat (AS) versus China. Mulai meredanya kecemasan di kalangan investor, membuat daya tarik safe haven mulai berkurang.

Setelah reaksi spontan terhadap tarif baru yang diumumkan oleh Washington dan Beijing pada hari Selasa, pasar mata uang menetap dan prediksi kejatuhan bakal memakan waktu lama terkait pendapatan perusahaan serta tidak menimbulkan guncangan tajam secara global.

Dolar yang sebelumnya cenderung meningkat karena ketegangan meningkat antara dua ekonomi terbesar dunia, kini berbalik merosot 0,2% menjadi 94,410 atau dekat posisi terendah tujuh pekan di level 94,308 yang sempat disentuh pada Selasa, lalu.

Pedagang juga mencatat bahwa data ekonomi makro AS tetap kuat sejauh ini, meskipun ada konflik perdagangan yang telah bergulir sejak awal tahun ini. Rival dolar yang lebih sensitif terhadap risiko, justru melawan untuk semakin menguat.

Mata uang negara-negara berkembang bangkit menguat, dipimpin oleh rupee India setelah China mengatakan tidak akan membalas dengan devaluasi mata uang kompetitif. Meskipun muncul nada melemah pada perdagangan hari Rabu, namun beberapa pelaku pasar masih melihat kekuatan dolar.

Poundsterling menanjak naik 0,2% terhadap dolar, setelah menghapus sebagian keuntungan awal setelah The Times melaporkan pada hari Rabu bahwa Perdana Menteri Inggris May telah menolak tawaran peningkatan dari Uni Eropa pada masalah perbatasan Irlandia. Para ekonom berharap bank sentral Norwegia pada Kamis menyampaikan kenaikan suku bunga pertama sejak 2011.

Terpantau Euro juga lebih tinggi 0,2% saat melawan dolar ke level 1,17. Berbanding terbalik Yen Jepang seperti masih tertekan usai diperdagangkan pada posisi 112,23 terhadap dolar, atau masih berada dalam jalur negatif dua bulan sejak kemarin di level 112,445.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak