alexametrics

Eagle High Plantations Operasikan Pabrik Baru di Papua

loading...
Eagle High Plantations Operasikan Pabrik Baru di Papua
Anak usaha PT Eagle High Plantations Tbk membangun pabrik baru di Keerom, Papua. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - PT Eagle High Plantations Tbk (EHP) mulai mengoperasikan pabrik kelapa sawit baru yang dibangun di Kabupaten Keerom, Papua. Pabrik yang dioperasikan melalui anak usaha EHP, yaitu PT Tandan Sawita Papua (TSP) tersebut telah melewati uji coba operasional pada awal bulan lalu.

Dengan beroperasinya pabrik baru ini, EHP akan mendapatkan manfaat dan lebih efisien dalam pengelolaan dan pengolahan hasil panen Tandan Buah Segar (TBS) dari perkebunan kelapa sawit PT TSP.

"Pengoperasian pabrik baru ini sebagai rangkaian perencanaan perseroan guna mengoptimalkan nilai tambah dari hasil panen TBS di areal TSP yang sebagian sudah memasuki usia tanaman menghasilkan," kata Chief Financial Officer EHP Henderi Djunaidi ketika dihubungi di Jakarta, Senin (29/10/2018).



Pabrik kelapa sawit yang dibangun dengan total investasi sebesar Rp260 miliar ini memiliki kapasitas sebesar 60 ton per jam yang kelak bisa diperbesar menjadi 90 ton per jam. Dengan beroperasinya pabrik ini, EHP telah memiliki sembilan PKS dengan total kapasitas sebesar 2,85 juta ton per tahun.

Diharapkan, imbuh Henderi, keberadaan pabrik baru ini mampu menambah penyerapan tenaga kerja di Papua, khususnya di wilayah Kabupaten Keerom.

Pada akhir tahun ini, Perseroan berencana akan membangun satu unit pabrik berkapasitas 60 ton per jam dan bulking station dengan kapasitas simpan sebesar 4.000 ton. Pabrik yang akan dibangun di Kalimantan Timur ini sebagai upaya perseroan guna mengantisipasi peningkatan produksi perkebunan kelapa sawit di wilayah ini, yang masuk di usia prima pada tahun 2020.

Terkait kinerja, hingga kuartal III/2018, perseroan membukukan peningkatan produksi TBS sebesar 1,295 juta ton atau meningkat 32% dibanding produksi pada periode yang sama tahun lalu. Sedangkan produksi CPO sebesar 277.000 ton atau meningkat sebsar 26% dibanding tahun lalu.


Kendati volume produksi TBS dan CPO naik cukup signifikan, total pendapatan perseroan hanya meningkat 6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menjadi sebesar Rp2,36 triliun. Hal ini disebabkan penurunan harga cukup tajam di kuartal ketiga, dibandingkan harga di kuartal kedua lalu.
Pendapatan yang belum optimal ini juga disebabkan adanya penundaan pengiriman penjualan CPO. Hal ini terlihat pada tingginya persediaan barang jadi senilai Rp360 miliar. Perseroan berharap pengiriman bisa kembali lancar pada kuartal keempat.

Melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sejak awal tahun hingga akhir September 2018 juga menyebabkan perseroan mencatatkan rugi kurs Rp165 miliar. Secara keseluruhan, pada kuartal III/2018, perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp282 miliar, meningkat 31% dibanding periode yang sama tahun lalu.

"Diharapkan periode ke depan harga CPO dan nilai tukar rupiah terhadap dolar bisa membaik dan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perseroan seiring dengan tren kenaikan volume produksi TBS dan CPO," pungkas Henderi.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak