alexametrics

Dolar Turun Saat Permintaan Mata Uang Safe Haven Menyusut, Rupiah Naik

loading...
Dolar Turun Saat Permintaan Mata Uang Safe Haven Menyusut, Rupiah Naik
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada awal perdagangan, Kamis (22/11/2018) dibuka kembali menguat, usai sempat tergelincir. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada awal perdagangan, Kamis (22/11/2018) dibuka kembali menguat, usai sempat tergelincir pada sesi kemarin pascaliburan. Perbaikan mata uang Garuda ke zona hijau, memanfaatkan memudarnya kekuatan dolar seiringi permintaan mata uang safe haven menyusut.

Menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah pagi ini dibuka menguat menjadi Rp14.592/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah kembali dalam jalur positif dibandingkan posisi perdagangan tengah pekan, kemarin di level Rp14.618/USD.

Berdasarkan data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah juga terus membaik menjadi Rp14.605/USD. Rupiah menunjukkan tren pemulihan setelah sempat kembali tertekan ke zona merah usai kemarin parkir di level Rp14.670/USD.

Data Yahoo Finance menunjukkan rupiah pada sesi perdagangan pagi menjelang akhir pekan justru lebih rendah ke posisi Rp14.585/USD dengan pergerakan harian Rp14.575 hingga Rp14.615/USD. Peringkat tersebut menjadi sinyal rupiah masih rentan setelah kemarin membaik Rp14.565/USD.

Posisi rupiah melihat data Bloomberg, pada perdagangan spot exchange melompat tinggi ke level Rp14.586/USD dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp14.602/USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.582-Rp14.606/USD.

Di sisi lain seperti dilansir Reuters, dolar secara luas lebih rendah dalam perdagangan Asia karena permintaan mata uang safe haven menurun setelah ekuitas global mencetak rebound. Sementara euro juga terus menguat seiring harapan untuk resolusi di tengah perselisihan anggaran Italia.

Dolar telah aktif menawar selama dua sesi perdagangan terakhir karena risk appetite surut pada kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan global dan konflik perdagangan AS versus China. Terpantau indeks dolar yang mengukur kekuatan versus enam mata uang utama, diperdagangkan lebih rendah pada level 96,7.

Dalam perdagangan Kamis, pagi tercatat indeks masih tertekan setelah sebelumnya kehilangan lebih dari 0,1%. Selanjutnya Yen diperdagangkan dengan bias melemah dengan berpindah menjadi 113.

Mata uang Jepang telah melemah selama dua sesi perdagangan terakhir terhadap dolar. Analis memperkirakan dolar/yen akan diperdagangkan dalam kisaran 111,5-114 dan bergerak mengikuti imbal hasil obligasi treasury 10 tahun AS.

Euro juga naik tipis terhadap dolar untuk diperdagangkan pada posisi USD1,1388. Mata uang tunggal naik 0,1% pada hari sesi perdagangan Rabu, kemarin meskipun Uni Eropa menolak rencana fiskal Italia karena gagal mematuhi aturan zona euro.
(akr)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak