alexametrics

Ratusan Pekerja Produsen Pesawat Bombardier di Irlandia Utara Kena PHK

loading...
Ratusan Pekerja Produsen Pesawat Bombardier di Irlandia Utara Kena PHK
Sebanyak 490 tenaga kerja perusahaan raksasa pembuat pesawat asal Kanada yakni Bombardier terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), seiring upaya efisiensi. Foto/Reuters
A+ A-
QUEBEC - Sebanyak 490 tenaga kerja perusahaan raksasa pembuat pesawat asal Kanada yakni Bombardier terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), seiring upaya efisiensi yang dilakukan perusahaan. Ratusan pekerja tersebut berada di operasi Irlandia Utara, dimana Bombardier mempekerjakan sekitar 4.000 orang di beberapa lokasi.

(Baca Juga: Produsen Pesawat, Bombardier Bakal PHK 5.000 Pekerja)

Dilansir BBC, produsen terbesar sektor manufaktur di kawasan tersebut mengatakan, pengurangan pegawai harus dilakukan setelah meninjau "persyaratan tenaga kerja" di Belfast. Sementara itu, Serikat pekerja Unite mengutarakan, kehilangan pekerjaan merupakan 'bom, dan tidak dapat dibenarkan dalam upaya peningkatan laba".

Perusahaan asal Kanada ini tercatat mempekerjakan sebanyak 69.500 orang di seluruh dunia dan sebagian besar tenaga kerja berbasis di sebuah pabrik pembuatan sayap di Belfast. Pada Februari, Bombardier yang juga memproduksi kereta api, melaporkan kenaikan laba sebesar 57%.

Sebelumnya perusahaan mengumumkan bulan ini bahwa bakal mengurangi total sebanyak 5.000 pekerjaan di seluruh operasi globalnya. Pada saat itu, dikatakan 3.000 tenaga kerja akan hilang yang berlokasi di Kanada.

Pihak perusahaan mengakui bahwa pemangkasan tenaga kerja di Belfast akan memiliki dampak terhadap para pekerja dan keluarga mereka. "Kami terus mengeksplorasi peluang untuk membantu mengurangi jumlah redudansi wajib. Namun, kami harus terus memangkas biaya dan meningkatkan efisiensi operasi kami untuk membantu memastikan daya saing jangka panjang," tandasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak