alexametrics

Pertemuan G20 Diharapkan Bisa Cairkan Perang Dagang AS-China

loading...
Pertemuan G20 Diharapkan Bisa Cairkan Perang Dagang AS-China
Menko Darmin Nasution berharap, pertemuan G20 yang berlangsung di Argentina saat ini bisa mencairkan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution berharap, pertemuan G20 yang berlangsung di Argentina saat ini bisa mencairkan ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China. Pasalnya, dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) dua negara ini sulit untuk didamaikan.

Menurut Menko Darmin, jika antara Negeri Paman Sam -julukan AS- dan Negeri Tirai Bambu bisa menjalin komunikasi, maka akan bisa terjadi moderasi di dunia. Bahkan, jika memungkinkan ada solusi untuk perang dagang yang terjadi antara kedua negara tersebut.

"Hari-hari ini, G20 sedang berlangsung di Argentina. Kalau Presiden Trump bisa jalin komunikasi dulu bersama dengan Jinping, dunia berharap ada moderasi, syukur-syukur solusi dari perang dagang," katanya dalam acara Seminar Nasional Proyeksi Ekonomi 2019 di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (28/11/2018).



Darmin menuturan, saat ini semua negara sedang merayu AS dan China agar bisa berkomunikasi. Dengan begitu, tensi perang dagang akan bisa mereda. "Maunya begitu, jadi apa nggak belum tahu. Ini semua sedang bujuk-bujuk, ayolah ketemu. Ngomonglah. Mudah-mudahan kalau terjadi, dia (perang dagang) agak mereda," tandasnya.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa untuk pertama kalinya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) tidak menghasilkan kesepakatan. Hal ini karena Amerika Serikat (AS) dan China masih terus bersitegang.

Pada KTT APEC di Port Foressby Papua Nugini, kata dia, Indonesia dalam konferensi tersebut mencoba untuk menjembatani keduanegara tersebut agar berdamai. Sayangnya, usaha tersebut sia-sia dan dua negara raksasa ini masih tetap dalam pendiriannya.

"Kami menyaksikan pimpinan negara dari dua ekonomi nomor satu dan dua di dunia bersitegang dan sulit, saya lihat sulit dipersatukan. Indonesia saat itu mencoba dari pagi sampai siang menjembatani. Sana sini ngelompok sendiri supaya bisa sambung tapi sampai 14.30 gagal," katanya dalam acara Kompas 100 CEO Forum di JCC, Jakarta, kemarin.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak