alexametrics

Usia 100 Tahun, Miliarder Tertua di Dunia Ini Masih Rajin ke Kantor

loading...
Usia 100 Tahun, Miliarder Tertua di Dunia Ini Masih Rajin ke Kantor
Executive Chairman PIL Teo Siong Seng dan ayahnya Chang Yun Chung, pendiri Pacific International Lines. Foto/PIL
A+ A-
SINGAPURA - Berusia senja, umumnya digunakan orang untuk menikmati sisa hidup dengan duduk manis di rumah atau tamasya. Apalagi bagi seorang miliarder, usia senja merupakan waktu untuk menikmati kekayaan. Tetapi hal ini tidak berlaku bagi Chang Yun Chung.

Chang, pengusaha berusia 100 tahun, pendiri Pacific International Lines (PIL), bersantai di rumah bukanlah pilihan. Miliarder tertua di dunia ini memang telah menyerahkan peran ketua eksekutif kepada putranya, Teo Siong Seng di awal 2018. Namun, pengusaha asal Singapura ini tetap bersikeras pergi ke kantor setiap hari.

"Pergi ke kantor adalah kebiasaan saya," kata Chang kepada CNBC, Rabu (5/12/2018).

Sebagai Ketua Emeritus PIL, sebuah gelar untuk menghormati kontribusinya kepada perusahaan berusia 51 tahun itu, Chang mengatakan dia pergi ke kantor pusat setiap hari untuk menjalankan operasi perushaaan dan memeriksa setiap departemen.

"Aku tidak bisa tinggal di rumah. Aku akan sangat, sangat bosan. Setiap hari ke kantor, saya menulis semua kegiatan saya di buku harian. Saya datang menemui setiap departemen," tegas Chang Yun Chung.

Baginya dengan pergi ke kantor setiap hari, ini merupakan cara untuk menjaga pikirannya tetap aktif alias tidak pikun, dan tetap berhubungan dengan perusahaan yang dia dirikan tahun 1967, bermodal dua kapal bekas.

Selain rutinitas ke kantor setiap hari, Chang juga membimbing si anak, Teo untuk belajar mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Karena Pacific International Lines merupakan salah satu dari 20 perusahaan pelayaran top dunia dengan lebih dari 18.000 pegawai.

Teo mengatakan dia berkonsultasi dengan ayahnya dua kali sehari, yaitu saat pagi hari dan setelah makan siang. Hal ini untuk mendapatkan wawasan dan belajar lebih banyak tentang gaya kepemimpinan.

Pendampingan ini terbukti penting bagi Teo, yang meniti karir di perusahaan ayahnya dari nol. Dan pelajaran utama dari sang ayah adalah bagaimana mengelola amarah saat berada di situasi tekanan tinggi.

"Ketika masih muda, saya lebih pemarah. Saya ingin jadi pemimpin yang tangguh. Tapi ayah mengajari saya satu hal yaitu peribahasa China, 'yi de fu ren'. Artinya jika orang-orang ingin mematuhi Anda bukan karena otoritas, bukan karena kekuatan Anda atau karena Anda galak, tetapi lebih karena integritas Anda, karena kualitas Anda. Dengan ini, orang-orang benar-benar menghormati dan mendengarkan Anda."

Teo mengatakan konsep 'yi de fu ren' tidak didapat dalam pelajaran bisnis, melainkan harus dipelajari dalam kehidupan. Dan mempelajari ini membutuhkan kesabaran dan ketenangan. "Ayah saya selalu mengajari saya untuk tenang dalam belajar. Dan saya masih belajar darinya".

Pelajaran dari sang ayah terbukti penting. Di tahun 2009, ketika menjabat direktur pelaksana, Teo harus menghadapi kasus pembajakan, dimana salah satu kapal perusahaannya dirompak di lepas pantai Afrika Timur. Butuh waktu 75 hari untuk membebaskan awak kapalnya.

"Dalam bisnis apa pun, terutama pengiriman, ada banyak hal yang tidak diketahui. Bisa masalah politik, bisa masalah teknis, atau ada kasus kecelakaan. Tapi apa pun itu jangan kehilangan kesabaran dan tetaplah terus bekerja. Jadi tetap tenang dalam menyelesaikan masalah," jelas Teo.

Mentalitas ini pula yang membuat Chang Yun Chung terlihat tetap bahagia dalam usianya yang senja. "Jangan pernah kehilangan kesabaran. Saat kamu kehilangan kesabaran, kamu tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri," pesan Chang.
(ven)
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak