alexametrics

Ekonom Minta Investasi Asing di Sektor Keuangan Dijaga

loading...
Ekonom Minta Investasi Asing di Sektor Keuangan Dijaga
Investasia sing di sektor keuangan disebut perlu dikendalikan agar tak makin meningkatkan defisit transaksi berjalan. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Arus investasi di sektor keuangan dinilai perlu tetap dijaga agar tidak menarik investasi asing terlalu besar. Hal tersebut perlu untuk mencegah terjadinya peningkatan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

Head of Global Markets PT HSBC Indonesia Ali Setiawan mengatakan, sektor keuangan ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, peningkatan peran sektor keuangan, baik perbankan ataupun pasar modal dapat mendorong investasi swasta yang mendukung pertumbuhan ekonomi.

Namun di sisi lain, peningkatan investasi swasta yang tidak diikuti peningkatan produktivitas dan tabungan nasional dapat memperburuk defisit transaksi berjalan.

"Studi kami menunjukkan bahwa di kawasan Asia-Pasifik, perkembangan sektor finansial memang berkontribusi terhadap peningkatan defisit transaksi berjalan," ujar Ali saat konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/12/2018).

Untuk itu, kata dia, inklusi keuangan yang tidak hanya mendorong investasi swasta, tetapi mendorong tabungan dan produktivitas bagi seluruh lapisan masyarakat, menjadi kunci stabilitas perekonomian. Saat ini, imbuhnya, kondisi pasar Indonesia tergolong stabil.

Berbagai risiko ketidakstabilan ekonomi disebutnya masih terkelola dengan baik. Apalagi mengingat persepsi global yang cukup baik akibat penangguhan sementara terhadap perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China.

"Namun pada tahun depan, kita harus tetap mengantisipasi kondisi-kondisi tidak diduga. Kesiapan menjadi poin yang harus ditekankan," tegasnya.

Karena itu, ke depan dukungan terhadap pendalaman pasar modal menjadi sangat penting dalam memastikan kestabilan nilai tukar Rupiah.

Melihat kondisi pasar yang dinamis, dibutuhkan tidak hanya dukungan dari sisi pangsa pasar namun juga penyediaan instrumen baru dalam sistem lindung nilai (hedging), serta penciptaan pangsa pasar dengan pasokan dan permintaan (supply-demand) yang lebih stabil, sehingga mampu bertahan dari berbagai tekanan eksternal.

Ali memaparkan, ada beberapa faktor pendorong yang menyebabkan tidakstabilan pasar di Indonesia selama 2018. Pertama, cukup tingginya arus dana asing yang keluar di pasar modal Indonesia dan juga pembelian mata uang asing untuk kebutuhan impor di dalam negeri."Persepsi pasar tentang faktor eksternal memang tidak dapat dihindari ataupun diubah. Selain faktor Fed Rate, beberapa insiden lain termasuk krisis mata uang di Turki dan Argentina juga mempengaruhi pasar domestik," ujarnya.Selanjutnya adalah perang dagang antara AS dan China yang telah menciptakan ketidakpastian pasar global. "Dampak trade war tersebut terhadap ekonomi Indonesia saat ini telah banyak didiskusikan, namun prediksi dampaknya terhadap pasar domestik selama 2019 masih abu-abu," tandasnya.
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak