alexametrics

Gas Bumi Bikin Efisien di Jalan, Tenang di Rumah

loading...
Gas Bumi Bikin Efisien di Jalan, Tenang di Rumah
Arso mulai mengenal bahan bakar gas (BBG) setahun lalu, kini pengemudi angkutan kota (angkot) di Bogor itu mengaku mendapatkan banyak keuntungan. Foto/Abdul Malik
A+ A-
UDARA terasa terik ketika matahari hampir tegak lurus di atas ubun-ubun. Angkutan kota (angkot) warna-warni berseliweran di tengah lalu lintas Kota Bogor, Jawa Barat, yang padat. Bunyi klakson kerap terdengar untuk menyibak kemacetan di depannya atau sebagai tanda menarik penumpang.

Mata Arso (60) sangat awas. Orang-orang di pinggir jalan bagi sopir angkot ini adalah uang yang berceceran. Sedikit saja melewatkan pandangan, bisa-bisa kehilangan calon penumpang. Itu berarti uang melayang. Di tengah persaingan angkot yang kian ketat, ditambah munculnya transportasi online, kehilangan satu penumpang adalah kerugian besar. Arso enggan mengalaminya.

Arso baru mulai narik angkot menjelang zuhur. Setiap hari sopir angkot Jurusan Taman Cimanggu-Pasar Anyar, Bogor, itu kebagian shift kedua. Shift pertama, dari subuh hingga siang hari, sudah menjadi jatah temannya. “Saya biasanya narik sampai magrib,” kata Arso sambil tetap awas matanya mencari calon penumpang di pinggir jalan.

”Di masa sekarang sopir angkot memang harus sigap mencari calon penumpang,” tutur Arso. Mereka tak boleh lengah dari pergerakan orang di pinggir jalan. Setiap orang harus ditawari naik angkot.

Jika perlu ngetem sebentar di ujung gang menunggu calon penumpangnya. Itulah mengapa rata-rata angkot berjalan lambat di tengah lalu lintas kota. “Dulu penumpang yang menunggu angkot. Sekarang terbalik, angkot yang menunggu penumpang,” ujar pria yang sudah bekerja menjadi sopir sejak usia 20 tahun itu.

Dia merasa jumlah penumpang angkot semakin sedikit. Masyarakat umum lebih memilih kendaraan pribadi lantaran mudah memiliki sepeda motor dan mobil kreditan. Jumlah angkot juga terlalu banyak sehingga membuat persaingan mendapatkan penumpang semakin ketat. “Ditambah lagi sekarang ada ojek atau taksi online. Angkot semakin tidak laku,” keluhnya.

Kondisi itu diperparah dengan lalu lintas Kota Bogor yang sangat padat. Kemacetan kerap terjadi di sejumlah titik. Akibatnya, bahan bakar habis hanya dalam beberapa kali putaran trayek. Ini berarti biaya operasional membengkak untuk mengisi bahan bakar kembali. Dampaknya, uang yang dibawa pulang untuk diberikan kepada istri di rumah pun sangat minim, antara Rp10.000-20.000.

Arso sempat bingung bukan kepalang. Hasil narik angkot jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski tanggungannya tinggal membiayai istri karena tiga anaknya sudah bekerja, uang yang dihasilkan tetap tidak cukup. Untuk bekerja di bidang lain, Arso tidak bisa. Keahliannya hanya mengemudikan angkot.

Untungnya setahun lalu Arso mulai mengenal bahan bakar gas (BBG). Juragan angkot memasang conventer kit untuk seluruh armadanya, termasuk angkutan kota yang dibawa Arso. Dengan alat ini angkot tidak lagi diisi bahan bakar minyak, tapi diganti gas, BBG.

Arso mengaku merasa terselamatkan sejak saat itu. Harga gas yang ia beli di SPBG milik Perusahaan Gas Negara (PGN) sangat murah, hanya Rp3.100 per liter setara premium (LSP). Jauh lebih terjangkau dibanding premium yang dijual Rp6.550 per liter. Jika biasanya menghabiskan uang Rp39.300 untuk membeli 6 liter premium, kini Arso hanya perlu mengeluarkan duit Rp18.600 untuk ukuran yang sama. “Kalau jalanan macet biasanya 6 LSP gas bisa untuk tiga kali putaran trayek. Tapi kalau jalanan lancar bisa empat kali putaran,” tutur ayah beranak tiga ini.

Sejak menggunakan bahan bakar gas, Arso mengaku masih bisa menyisakan uang untuk istri di rumah antara Rp50.000-60.000 per hari. Itu adalah pendapatan bersih setelah dikurangi setoran Rp50.000, mengisi bahan bakar, serta membeli makan dan minum. “Sekarang lumayan, uang yang dibawa ke rumah cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya tersenyum.

Bukan hanya Arso yang merasa terselamatkan dengan penggunaan bahan bakar gas untuk angkotnya. Suradi (55), sopir angkot jurusan Parung-Bogor, juga bisa menghemat biaya operasional sejak menggunakan bahan bakar gas delapan bulan lalu. Sekali mengisi bahan bakar gas senilai Rp20.000, dia bisa pulang-pergi (pp) untuk trayek sepanjang 24 kilometer. “Pakai gas jauh lebih hemat dibanding bensin,” ujar Suradi saat ditemui di SPBG Bogor.

Kepala Bidang Angkutan pada Dinas Perhubungan Kota Bogor, Jimmy Hutapea, membenarkan bahwa penggunaan BBG mampu meningkatkan penghasilan sopir angkutan. Selain harganya murah, BBG lebih efisien atau irit dibanding bahan bakar minyak. “BBG juga ramah lingkungan,” ucapnya.

Keberadaan angkot BBG di Kota Bogor, menutur Jimmy, dimulai beberapa tahun lalu. Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menggandeng PGN dan Dishub untuk melaksanakan program konversi angkot BBM ke gas. Secara bertahap pemerintah memberikan stimulan berupa conventer kit gratis bagi angkot.

“Dari total 3.412 angkot di Kota Bogor, yang telah menggunakan BBG sekitar seratusan unit. Kalau ditambah dengan angkot BBG dari kabupaten (Bogor), saya tidak tahu persisnya jumlahnya,” katanya.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak