alexametrics

Ingin Beli Jam Kayu Mahal, Awal Sukses Bisnis Lulusan SV UGM

loading...
Ingin Beli Jam Kayu Mahal, Awal Sukses Bisnis Lulusan SV UGM
Ingin Beli Jam Kayu Mahal, Awal Sukses Bisnis Lulusan SV UGM. (Istimewa).
A+ A-
KLATEN - Keinginan bukan hanya menjadi kenyataan, juga mengantarkan warga Bayat, Klaten, Jawa Tengah, lulusan sekolah vokasi D-3 Bahasa Inggris Universitas Gadjah Mada (UGM) 2011 Afidha Fajar Adhitya, 28, menjadi wirausaha (entrepreneur) produksi jam tangan kayu, dengan brand Eboni Watch & Clock.

Ya ini karena memulai bisnis berawal dari keinginannya tersebut, yaitu ingin mempunyai jam tangan kayu, tapi harganya mahal. Sebab, untuk brand di Indonesia baru ada tiga sehingga dirinya melihat dan menangkap ada peluang dan potensi bisnis untuk produk itu.

“Inilah yang mendorong saya untuk berbisnis jam kayu ini,” kata Afidha mengawali pembicaraan dengan KORAN SINDO soal bisnisnya itu, Jumat (7/12). Afidha mengatakan, menjadi entrepreneur memang sudah menjadi cita-citanya sejak kecil.



Untuk itu, guna menunjang kariernya nanti, saat lulus SMA 2008, memutuskan memilih SV, yaitu jurusan Bahasa Inggris di SV UGM. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Menurut dia, bahasa Inggris akan sangat mendukung usahanya nanti.

Apalagi pada era global, bahasa itu menjadi bahasa wajib dalam kehidupan, di antaranya bisnis. Bukan hanya dalam komunikasi, juga membuat program bisnis tersebut disajikan dengan bahasa Inggris.

“Bahasa Inggris itu juga termasuk jurusan favorit dibandingkan jurusan lain di SV UGM,“ paparnya . Hanya, seperti halnya orang tua pada umumnya, yang menginginkan anaknya setelah menyelesaikan pendidikan menjadi pegawai kantor.

Begitu juga orang tuanya, menginginkan dirinya bekerja kantoran (PNS/bank). “Karena itulah setelah lulus SV, tidak langsung menjadi entrepreneur , tetap mengawali karier bekerja di kantoran,” paparnya. Namun begitu, bekerja di kantor itu tidak berlangsung lama.

Sebab, pada awal 2013 mulai fokus berusaha yaitu memproduksi jam tangan kayu. Memilih usaha ini, sebab produksi jam tangan kayu di Indonesia belum banyak, tercatat tahun itu baru ada tiga brand sehingga harganya mahal.

Melihat peluang itulah, akhirnya pada tahun akhir 2014 memutuskan untuk memproduksi jam tangan kayu dengan brand Eboni Watch & Clock. “Memilih usaha ini karena passion di bidang produk kreatif.

Saya sangat suka mendesain dan membuat banyak hal dengan tangan,” akunya. Dia pun mulai mendesain jam tangan kayu, setelah jadi, dibawa ke vendor perusahaan kerajinan kayu di Yogyakarta untuk dibuatkan. Hasilnya kemudian dijual di media sosial, melalui akun Instagram (IG).

Ternyata mendapat respons positif. Terbukti hasil produksinya laku semua (sold out ). “Produk pertama jam tangan kayu saya langsung dibeli oleh seorang kolektor di Afrika Selatan,” ujarnya.

Menurut Afidha, setelah mengetahui produk jam tangan kayunya laku di pasaran, maka mulai 2016, memutuskan untuk membuat sendiri. Tempat tinggalnya di Bayat, Klaten, Jawa Tengah, kemudian dijadikan tempat produksi sekaligus showroom .
Awalnya jam tangan kayu tersebut dia produksi sendiri dan setelah berkembang, akhirnya merekrut pegawai. “Saat ini saya memiliki delapan karyawan, dengan omzet rata-rata Rp30 juta-60 juta per bulan. Untuk pemasaran masih secara online ,” akunya.
Afidha mengaku, latar belakang pendidikan di SV Jurusan Bahasa Inggris sangat membantu dan mendukung dirinya dalam berkarier sebagai entrepreneur atau wirausaha.

Ditambah orang tua yang awalnya tidak mendukung, setelah melihat usahanya berkembang, akhirnya juga mendukung sehingga semakin menambah dirinya mantap menjadi wirausaha.

“Pesan untuk generasi muda yaitu kerja keras, kerja cerdas, kerja baik, dan kerja bijaksana. Kejarlah mimpimu setinggi dan sejauh apa pun itu. Kejar, harus berlari tanpa kenal lelah. Ada kalanya jatuh, bosan tapi ketika keyakinanmu kuat, kamu akan mendapatkannya,” pesannya. (Priyo Setyawan)
(nfl)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak