Utang AS Membengkak hingga Tembus Rp550.693 Triliun, IMF Wanti-wanti Soal Risikonya

Jum'at, 19 April 2024 - 18:21 WIB
loading...
Utang AS Membengkak...
Menurut World Economic Outlook terbaru, yang dikeluarkan oleh IMF pada hari Selasa, kemarin bahwa defisit anggaran federal AS melonjak dari USD1,4 triliun pada tahun fiskal 2022 menjadi USD1,7 triliun di 2023. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Dana Moneter Internasional atau IMF menyoroti pengeluaran berlebihan oleh pemerintah Amerika Serikat atau AS dan memperingatkan soal lonjakan inflasi yang pada akhirnya bisa berdampak terhadap stabilitas keuangan di seluruh dunia.

Baca Juga: Kekhawatiran Atas Resesi AS Mulai Mencair, Kuartal I 2024 Diprediksi Positif

Menurut World Economic Outlook terbaru, yang dikeluarkan oleh IMF pada hari Selasa, kemarin bahwa defisit anggaran federal AS melonjak dari USD1,4 triliun pada tahun fiskal 2022 menjadi USD1,7 triliun di 2023.

"Kinerja luar biasa baru-baru ini dari Amerika Serikat tentu mengesankan dan menjadi pendorong utama pertumbuhan global," kata IMF seperti dilansir RT.

Baca Juga: Dipengaruhi China dan Perang, IMF Proyeksikan Ekonomi Global 2024 Bakal Melambat

Namun, laporan tersebut menjelaskan bahwa ini "mencerminkan faktor permintaan yang kuat, termasuk sikap fiskal yang tidak sejalan dengan keberlanjutan fiskal jangka panjang."

Utang nasional AS yang membengkak, hingga melebihi USD34 triliun atau setara Rp550.693 triliun (Kurs Rp16,196 per USD) pada bulan Desember, dan defisit fiskal mengancam akan memperburuk tingkat inflasi yang sangat tinggi. Pada akhirnya hal itu menimbulkan risiko jangka panjang bagi ekonomi global, menurut laporan terbaru dari IMF tersebut.

"Sesuatu harus dilakukan," ujar IMF memperingatkan.

AS seperti diketahui telah melampaui plafon utangnya, yang secara hukum ditetapkan sebesar USD31,4 triliun, pada Januari 2023. Setelah berbulan-bulan diperingatkan tentang default yang akan segera terjadi dan bencana ekonomi dari Departemen Keuangan AS, Presiden Joe Biden pada Juni 2023 menandatangani RUU utang bipartisan yang menangguhkan batas tersebut hingga Januari 2025.

Kondisi ini secara efektif memungkinkan pemerintah untuk terus meminjam tanpa batas hingga tahun depan. Utang AS kemudian melonjak menjadi USD32 triliun kurang dari dua minggu setelah RUU itu disetujui, dan terus menumpuk sejak saat itu.

Utang yang dipegang oleh publik dapat melonjak sebesar USD19 triliun selama dekade berikutnya untuk melampaui angka USD54 triliun, seiring meningkatnya biaya populasi yang menua dan biaya bunga yang lebih tinggi, menurut proyektor baru-baru ini.

Sejak menjabat, Biden telah menghabiskan triliunan dolar untuk bantuan Covid serta infrastruktur. AS juga telah menghabiskan miliaran dolar untuk bantuan bagi Ukraina.

Pemerintahan Biden, bagaimanapun, telah bersikeras bahwa pemotongan pajak yang ditandatangani menjadi undang-undang oleh Presiden Donald Trump saat itu harus disalahkan atas utang nasional yang membengkak.

Bulan lalu, Biden meluncurkan rencana anggaran USD7,3 triliun untuk tahun 2025 yang akan mendorong utang AS lebih dari 100% dari PDB, ketika ia menyusun agenda fiskal yang meningkatkan pengeluaran. Akan tetapi Ia berencana untuk menghemat USD3 triliun melalui pajak yang lebih tinggi selama sepuluh tahun.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bos IMF Peringatkan...
Bos IMF Peringatkan Dunia Tak Akan Pernah Normal Lagi: Bersiap Hadapi Gelombang Krisis Baru
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
IMF, Bank Dunia, dan...
IMF, Bank Dunia, dan IEA Ketar-ketir Kelangkaan BBM di Depan Mata
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
IMF Peringatkan AI Bisa...
IMF Peringatkan AI Bisa Bobol Sistem Perbankan Dunia dalam Hitungan Detik!
Cerita Purbaya Tolak...
Cerita Purbaya Tolak Dana Segar dari IMF dan World Bank: Kita Punya Tabungan Sendiri
Peran Yuan China Dalam...
Peran Yuan China Dalam Tata Keuangan Dunia Baru
Pidato di Davos, Prabowo:...
Pidato di Davos, Prabowo: Kita Berkumpul saat Dunia Penuh Ketidakpastian
Fiskal Jadi Nahkoda,...
Fiskal Jadi Nahkoda, Moneter Jadi Dayung?
Rekomendasi
Periksa Silmy Karim,...
Periksa Silmy Karim, KPK Telusuri Asal-usul Aset
Mantan Petinggi OJK...
Mantan Petinggi OJK Ditahan Bareskrim terkait Kasus Dana Syariah Indonesia
Sony Sonjaya Ungkap...
Sony Sonjaya Ungkap 41 Nama Diduga Minta Titik SPPG, Sahroni Khawatir untuk Mengelabui Penyidik
Berita Terkini
Jangan Sampai Lolos!...
Jangan Sampai Lolos! BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Promo Gila-gilaan dari Rumah, Mobil, sampai Tiket Liburan
Pendaftaran Pelatihan...
Pendaftaran Pelatihan Vokasi Batch 3 Resmi Dibuka, Kuotanya 20 Ribu Peserta
Dorong Bioenergi, PLN...
Dorong Bioenergi, PLN EPI Siap Serap 10 Juta Ton Biomassa di 2030
IHSG Sepekan Melonjak...
IHSG Sepekan Melonjak 2,82%, Kapitalisasi Pasar Bertambah Jadi Rp10.788 Triliun
Indo Build Tech 2026,...
Indo Build Tech 2026, AMBPI Bawa Sejumlah Inovasi Baru
Bidik Pasar Indonesia...
Bidik Pasar Indonesia Timur, Jafran Indonesia Kenalkan JR 737 di PENAS XVII
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved