alexametrics

Sri Mulyani Bakal Review Impor Penyebab Defisit Perdagangan

loading...
Sri Mulyani Bakal Review Impor Penyebab Defisit Perdagangan
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menerangkan, bakal mereview impor yang masih membuat neraca perdagangan mengalami defisit. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menerangkan, bakal mereview impor yang masih membuat neraca perdagangan mengalami defisit. Hingga November 2018 tercatat impor nonmigas mencapai USD14,04 miliar atau meningkat 8,79% dibandingkan November 2017, namun turun 4,80% dari Oktober 2018.

"Kami juga memahami dinamika global sedang sangat tinggi atau tidak pasti, di sisi lain impor juga akan tetap kita review. Kemarin 1.147, sebetulnya dari sisi volume harian sudah mulai menurun dari 1.147 komoditas yang kena kode HS (Harmonized System/pemisahan pos tarif) itu," ujar Menkeu Sri Mulyani di Jakarta, Senin (17/12/2018).
(Baca Juga: Impor Naik 11,68% Hingga November, Barang Konsumsi Penyebab Terbesar)
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan nilai impor Indonesia November 2018 mencapai USD16,88 miliar atau turun 4,47% dibanding Oktober 2018, namun jika dibandingkan November 2017 naik 11,68%. Hal ini menjadi salah satu penyebab, kenapa neraca dagang Indonesia masih defisit hingga November.

Sambung Sri Mulyani, Ia menegaskan bakal memfokuskan pada impor nonmigas yang memicu neraca perdagangan mengalami defisit. "Namun sektor lain di migas dan non migas kita mesti memperhatikan kemampuan industri dalam negeri untuk bisa mensubtitusi itu," paparnya,



Sebagai informasi, impor nonmigas November 2018 mencapai USD14,04 miliar atau turun 4,80% dibanding Oktober 2018, sebaliknya jika dibanding November 2017 meningkat 8,79%. Penurunan impor nonmigas terbesar November 2018 dibanding Oktober 2018 adalah golongan mesin/peralatan listrik sebesar USD201,1 juta (10,04%) sedangkan peningkatan terbesar yakni golongan minuman sebesar USD75,3 juta (470,63%).

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–November 2018 ditempat oleh Tiongkok dengan nilai USD40,85 miliar (28,07%), Jepang USD16,61 miliar (11,41%), dan Thailand USD10,09 miliar (6,94 %). Impor nonmigas dari ASEAN 20,08%, sementara dari Uni Eropa 8,93%.

Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari–November 2018 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 23,72%, 21,44%, dan 24,80%.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak