alexametrics

Awal 2019, Dolar AS dan Yen Jepang Menguat

loading...
Awal 2019, Dolar AS dan Yen Jepang Menguat
Dolar AS dan yen Jepang menjadi pilihan karena kekhawatiran perlambatan ekonomi global. Foto/Business Times
A+ A-
NEW YORK - Dolar Amerika Serikat (USD) menguat terhadap euro dan poundsterling Inggris pada perdagangan pasar uang di awal 2019. Dolar AS dan yen Jepang perkasa karena statusnya sebagai mata uang safe haven, dimana investor mengkhawatirkan perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan gejolak di pasar saham.

Melansir dari Reuters, Kamis (3/1/2019), indeks USD yang mengukur kinerja greenback naik 0,63% ke level 96,78. Hal ini membuat euro turun 1,11%, imbas dari lemahnya data manufaktur Spanyol, Prancis, Italia, dan Jerman. "Data kawasan euro yang lembek membuat dolar AS menguat," kata Eric Viloria, ahli strategi valuta asing di Credit Agricole di New York.

Idem, poundsterling Inggris juga melemah 1,1% terhadap USD, karena masih adanya kekhawatiran soal negosiasi Brexit. Risiko-risiko di kawasan euro dan Inggris membuat investor mengoleksi dolar AS dan yen Jepang.



Tekanan geopolitik, termasuk masih adanya kekhawatiran konflik dagang Amerika Serikat dengan Republik Rakyat China dan tekanan finansial, menguntung yen. Karena Jepang merupakan negara kreditor terbesar di dunia. Hal ini membuat yen Jepang naik 0,30% terhadap dolar AS.

Seperti diulas di atas, investor mengkhawatirkan perlambatan pertumbuhan global seiring aktivitas pabrik di China yang kontraksi untuk pertama kalinya dalam 19 bulan. Pada Desember yang baru lewat, pesanan domestik dan ekspor China terus melemah.

"Data dari China ini membuat kekhawatiran umum soal pertumbuhan ekonomi global. Nada khawatir ini telah membantu yen Jepang meraih kinerja baik di awal 2019. Yen Jepang juga mendapat untung dari isu government shutdown di AS dan turunnya imbal hasil obligasi AS," pungkas Viloria.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak