alexametrics

Realisasi Subsidi Energi Sepanjang 2018 Tembus Rp153,5 Triliun

loading...
Realisasi Subsidi Energi Sepanjang 2018 Tembus Rp153,5 Triliun
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyebutkan bahwa subsidi energi sepanjang tahun 2018 mencapai Rp153,5 triliun. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyebutkan bahwa subsidi energi sepanjang tahun 2018 mencapai Rp153,5 triliun. Jumlah ini naik hingga Rp55,9 triliun dibanding tahun 2017 yang sebesar Rp97,6 triliun.

Namun, kata dia, jika dikomparasikan realisasi subsidi energi dari 2012 hingga 2014 dengan periode 2015 hingga 2018 jumlahnya menurun. Pada periode 2014 hingga 2018 realisasi subsidi mencapai Rp958 triliun sedangkan periode 2014 hingga 2018 hanya sekitar Rp477 triliun.

"Subsidi energi itu bisa dilihat, ada komparasi 2012-2014 tiga tahun itu Rp958 triliun. Nah, empat tahun berikutnya dari 2015-2018 itu Rp477 triliun. Memang jumlahnya lebih besar, kalau lihat 2017 subsidi energi itu Rp97,6 triliun dan 2018 Rp153,5 triliun," katanya di Gedung Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (4/1/2019).



Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto menambahkan, meningkatnya subsidi energi di tahun 2018 disebabkan karena konsumsi LPG 3 kilogram (kg) yang meningkat. Selain itu, subsidi solar di tahun tersebut juga naik dari Rp1.000 per liter menjadi Rp2.000 per liter. "Subsidinya (solar) naik dua kali lipat. Solar kan harganya naik. Kurs juga ada," tutur dia.

Sementara Kepala Badan Pengatur Hilir Migas Fanshurullah Asa menyebutkan, konsumsi solar sepanjang 2018 mencapai 15,54 juta kiloliter (KL). Jumlah ini mencapai 99,52% dari kuota yyang dicanangkan. "Berdasarkan data BPH Migas, verifikasi sampai bulan Desember itu BBM solar mencapai 15,545 juta KL atau 99,52% dari kuota. 2017 hanya 14 juta," sebutnya.

Sementara realisasi konsumsi premium sepanjang 2018 adalah 9.231 KL atau 78,32% dari kuota yang sebesar 11 juta KL. "Realisasi rendah karena ada transisi, waktu di awal-awal kan belum masuk wilayah Jamali untuk JBKP. Itu jadi salah satu sebab tidak sampai realisasi mendekati angka itu," tandasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak