alexametrics

Mendag Kejar Penyelesaian 12 Perjanjian Dagang Tahun Ini

loading...
Mendag Kejar Penyelesaian 12 Perjanjian Dagang Tahun Ini
Mendag Enggartiasto Lukita menargetkan 12 perjanjian dagang internasional diteken tahun ini. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menargetkan dapat merampungkan 12 perjanjian perdagangan internasional tahun ini. Beberapa di antaranya merupakan perjanjian perdagangan dengan negara-negara nontradisional untuk memperluas akses pasar Indonesia.

Dia mengatakan, tiga negara di Afrika menjadi salah satu target pemerintah Indonesia untuk melakukan perjanjian dagang. Hal ini karena negara tersebut bisa menjadi pintu masuk untuk melakukan perjanjian dagang dengan negara lain di Afrika dan Eropa.

"Tiga negara di Afrika tidak besar, tapi jadi pintu masuk bagi negara di Afrika dan juga ke Eropa. Karena dia bisa menyeberang ke sana," katanya di Gedung Kemendag, Jakarta, Kamis (10/1/2019).



Sementara di tahun 2018, ekspor nonmigas Indonesia ke beberapa negara nontradisional yang mengalami peningkatan adalah Bangladesh 15,9%, Turki 10,4%, Myanmar 17,3%, Kanada 9%, Selandia Baru 16,8%, Polandia 23,3%, dan Nigeria 17,3%.

"Kalau kita hanya mengacu kepasar tradisional, maka bisa kita bayangkan apa yang terjadi di global. Jadi ini menopang, dan kita terus membuka perdagangan dengan berbagai perjanjian yang sedang dan akan kita selesaikan," tandasnya.

Adapun 12 perjanjian perdagangan yang penyelesaiannya tengah dikejar pemerintah adalah:
1. Indonesia-Mozambik PTA2. Indonesia-Tunisia PTA
3. ASEAN Trade in Service Agreement (ATISA)
4. 1st Protocol to Amend of ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership Agreement (INvestment and Services)
5. General Review IJEPA
6. IA-CEPA
7. Indonesia-Iran PTA
8. Indonesia-Maroko PTA
9. Indonesia-Turki CEPA
10. Indonesia-Korea CEPA
11. Indonesia-EU CEPA
12. RCEP
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak