alexametrics

Setelah Menang Enam Hari, Wall Street Jatuh Karena Government Shutdown

loading...
Setelah Menang Enam Hari, Wall Street Jatuh Karena Government Shutdown
Wall Street ditutup melemah karena government shutdown. Foto/News OK
A+ A-
NEW YORK - Pasar saham Amerika Serikat alias Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Jumat waktu setempat, karena berlarut-larutnya government shutdown.

Melansir dari CNBC, Sabtu (12/1/2019), indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,11% menjadi 23.974,39. Indeks S&P 500 melemah tipis 0,03% ke level 2.595,79, dan Nasdaq tergelincir 0,19% menjadi 6.972,74.

Pemerintah Federal memutuskan menutup sebagian besar layanan pemerintah pada Jumat, setelah 21 hari berturut-turut deadlock soal government shutdown. Hal ini memicu kekhawatiran penutupan yang akan berlangsung lama.



Presiden AS Donald Trump pun langsung menyatakan melewatkan pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada akhir Januari karena government shutdown. Trump kemungkinan akan mengumumkan keadaan darurat nasional jika Gedung Putih dan Kongres tidak dapat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri penutupan.

"Saya pikir kesepakatan bakal tetapi setelah mereka merasakan rasa sakit di ekonomi, keuangan, dan politik. Setiap dua minggu dari shutdown telah memangkas 0,1 poin dari pertumbuhan ekonomi," ujar Joseph Song, ekonom di Bank of America Merrill Lynch di New York.

Sebelumnya selama enam hari, Wall Street berada pada jalur cepat untuk membukukan kenaikan mingguan yang kuat. Indeks Dow Jones dan S&P 500 naik lebih dari 2% pada pekan ini, dan Nasdaq telah meningkat 3,2%.

Sementara itu, Nancy Davis, chief invesment officer (CIO) dari Quadratic Capital, mengatakan meski government shutdown berakhir, volatilitas di pasar saham akan tetap tinggi di masa mendatang.

"Saya melihat volatilitas tinggi akan kembali ke pasar. Naik turun ini akan menjadi pemandangan yang lebih umum," katanya.

Nancy dan analis dari Goldman Sachs, Karen Holthouse, mengatakan volatilitas ini disebabkan kekhawatiran perlambatan ekonomi China yang akan mengurangi permintaan produk-produk dari emiten di AS.

Starbucks, Apple, dan McDonald's, menyatakan terjadi penurunan permintaan sejak akhir tahun lalu, menyusul perlambatan ekonomi di China, sehingga mereka harus mengoreksi target pendapatan di tahun ini.

Dan kekhawatiran perlambatan ekonomi China telah membuat Beijing datang untuk mencoba melakukan kesepakatan permanen dengan AS, untuk menyelesaikan konflik dagang yang telah menghukum ekonomi mereka.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak