alexametrics

IPB Sambut Program Kementan Ciptakan 1 Juta Petani Milenial

loading...
IPB Sambut Program Kementan Ciptakan 1 Juta Petani Milenial
Ilustrasi petani milenial. Foto/Istimewa
A+ A-
BOGOR - Program Kementerian Pertanian (Kementan) mencetak 1 juta petani milenial mendapat sambutan positif dari mahasiswa dan alumni IPB yang tergabung dalam Kopi Warung Pemula. Hal ini terungkap dalam diskusi yang digelar Kopi Warung Pemula dengan mengangkat tema "Buka kacamata kuda: Bertani jangan sendiri, Bertani butuh sinergi" di Bogor.

Hadir Kepala Sub Bagian Hukum dan Humas Direktorat Jenderal Hortikultura, Rico Simanjuntak, Kepala Sub Bagian Komunikasi dan Pemberitaan Media Cetak Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan), Abiyadun, petani muda alumni IPB, Reza Ali Akbar serta mahasiswa dan alumni muda IPB, Peneliti Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB, Amril Rangkuti.

Dalam diskusi tersebut, Rico Simanjuntak memaparkan tentang capaian pemerintah, khususnya Kementan dalam menciptakan petani milenial. Bahkan, Kementan menargetkan untuk mencetak 1 juta petani milenial.



"Kementan akan ciptakan 1 juta petani milenial di tahun 2019 ini, dan saat ini sudah mencapai 400 ribu petani milenial. Kementan juga memberikan bantuan hingga 423.195 ribu lebih alat dan mesin pertanian yang diberikan selama 4 tahun, atau naik 1.526%," ungkap Rico, Sabtu (12/1/2019).

Rico mengajak generasi muda agar selalu terlibat aktif dalam memajukan sektor pertanian di Indonesia. Pasalnya, kebijaka Pemerintah melalui Kementan mengarah pada pertanian modern atau pertanian 4.0.

"Generasi milenial ini kan sangat aktif dan mengerti teknologi, inovasi dan adopsi teknologi akan cepat terlaksana jika diambil alih oleh mereka, di tangan petani muda milenial menggerakkan roda perekonomian bangsa," tutur Rico.

Target yang dituju oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dalam hal ini Rico menjelaskan bahwa bukan hanya swasembada pangan, namun Indonesia juga bisa menjadi lumbung pangan dunia. Ia optimis untuk bisa mewujudkan cita-cita luhur dan belum pernah ada yang menerapkan ini.

"Kemajuan teknologi bergerak sangat pesat, adopsi teknologi dapat dilakukan oleh mereka yang melek teknologi. Dengan sumber daya alam yang melimpah, dan sumber daya manusia utamanya generasi muda, kita dapat menjadi energi besar untuk mewujudkan hal ini," ungkapnya.

Saat ini, era kolaborasi atau sinergi. Seperti tema diskusi ini, bertani jangan sendiri. Pemerintah sangat mendukung generasi muda untuk terlibat memajukan pertanian nasional.

Petani muda yang sedang menggeliatkan berbagai bidang usahanya sekaligus alumni Fakultas Pertanian IPB, Reza Ali Akbar memantik diskusi dengan menyinggung mengenai bagaimana bertani di era Revolusi Industri 4.0 seperti yang sedang berlangsung sekarang ini.

"Data hasil sensus pertanian 2013, ada sekitar 10 juta petani yang beralih profesi. Sedangkan regenerasi petani terasa jalan di tempat. Apakah ada sebuah peluang bagi generasi pemuda petani kendalanya," pantik Reza.

Pertanyaan ini pun disambut oleh para pemateri dengan membeberkan fakta di lapangan yang merupakan hasil kebijakan dan program dari Kementan. "Pertama, melalui program perluasan areal tanam baru yakni jagung di lahan tidur banyak pemuda tani yang turut bergerak. Kalau dulu petani jagung hanya berusia tua".

Ia melanjutkan bahwa yang kedua ialah program peningkatan produksi dan ekspor hortikultura. Program ini berhasil menarik minat generasi muda untuk menjadi petani sekaligus pelaku usaha, karena tidak hanya difasilitasi dari bantuan produksi, pendapingan, tetapi juga dipermudahnya dalam pengurusan izin ekspor, serta mendapatkan suntikan dana dari berbagi investor dalam maupun luar negeri.

"Jadi dulu kalau mengurus izin ekspor itu sangat sulit, bahkan butuh waktu 2 hingga 3 bulan, itu pun tidak ada kejelasan yang pasti. Tetapi, hari ini melalui kebijakan Menteri Amran, hanya butuh waktu 3 jam saja, melalui online single submission (pendaftaran terpadu satu pintu berbasis daring)," jelasnya.

Ketiga, Kementan membangun sistem tata niaga pertanian yang baru berbasis online dan dikelola oleh pemuda milenial, seperti salah satunya ialah pasar lelang cabai yang telah berkembang di berbagai daerah, misalnya Yogyakarta, bahkan sudah bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika.

"Keempat, mendorong pengelolaan lahan berbasis korporasi. Mulai dari hulu hingga ke hilir, petani diberikan akses sehingga bertani saat ini tidak lagi hanya untuk memenuhi kebutuhan keseharian saja, tetapi menjadikan petani sebagai pelaku usaha," pungkasnya.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak