alexametrics

Sri Mulyani Soroti Pajak Masih Jadi Bahasan Sensitif

loading...
Sri Mulyani Soroti Pajak Masih Jadi Bahasan Sensitif
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menilai pajak masih menjadi bahasan sensitif bagi masyarakat Indonesia, bahkan tak jarang membuat ketakutan. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menilai pajak masih menjadi bahasan sensitif bagi masyarakat Indonesia. Pasalnya jika masyarakat Indonesia mendengar kata pajak, hal itu membuatnya pusing atau bahkan ketakutan.

(Baca Juga: E-commerce Kini Kena Pajak, Berikutnya Giliran Selebgram dan Youtuber)
Padahal, menurutnya Pajak sendiri merupakan instrumen yang penting dalam pembangunan Ekonomi Indonesia. Sebab, penerimaan pajak yang tinggi bakal meningkatkan infrastruktur di Indonesia.

“Masih sangat sensitif di Indonesia, karena kalau orang dengar pajak itu kepalanya langsung korslet, dia sudah tidak bisa mikir, tidak bisa diajak ngomong. Pokoknya dia takut langsung khawatir saja, padahal kita memungut pajak dengan tema sangat hati-hati," ujar Sri Mulyani di Jakarta, Senin (14/1/2019).



Lebih lanjut mantan Direktur Bank Dunia itu juga menekankan tidak akan sembarangan dalam menarik kewajiban perpajakan kepada masyarakat. Pasalnya pajak merupakan instrumen yang perlu ditingkatkan. "Saya tentu sebagai Menteri Keuangan, kita bisa menata Indonesia menjadi jauh lebih baik tanpa merusak pondasinya," paparnya.

Hal tersebut terkait dengan penerbitan pajak bagi e-commerce yang dinilai olehnya bentuk penataan pemerintah agar bisa bersaing dengan negara lain. "Indonesia ini destinasi investasi yang luar biasa menarik, karena kita populasinya besar, dan keinginan connect terhadap ekonomi digital itu sangat tinggi. Oleh karena itu Amazon ingin masuk ke sini, dari sisi unicorn di Indonesia yang sudah masuk mampu meng-establish suatu keunggulan kompetitif dari Indonesia," tandasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak