alexametrics

Defisit Neraca Perdagangan Bikin Rupiah Tekor ke Rp14.133/USD

loading...
Defisit Neraca Perdagangan Bikin Rupiah Tekor ke Rp14.133/USD
Defisit Neraca Perdagangan bisa bikin rupiah kembali melemah. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) di pasar spot, Rabu (16/1/2019) dibuka anjlok 40 poin atau 0,28% ke level Rp14.130 per USD. Laju rupiah pada pukul 11.00 WIB, juga berkutat di jalur lemah, dengan terdepresiasi 43 poin atau 0,31% ke posisi Rp14.133 per USD. Sementara pada Selasa kemarin, rupiah di indeks Bloomberg ditutup di level Rp14.090 per USD.

Senada, kurs rupiah di data Yahoo Finance pada Rabu ini, melemah 35 poin atau 0,24% ke level Rp14.115 per USD. Selasa lalu, rupiah ditutup menguat di level Rp14.080 per USD.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, mata uang NKRI pada Rabu ini berada di level Rp14.154 per USD, terdepresiasi 70 poin dari level Rp14.084 per USD di Selasa kemarin.



Neraca Perdagangan yang defisit menjadi penyebab lunglainya rupiah pada hari ini. BPS pada Selasa lalu, merilis Neraca Perdagangan Indonesia periode Desember 2018 yang mengalami defisit USD1,1 miliar. Dan secara keseluruhan, Neraca Perdagangan Indonesia pada 2018 mengalami defisit USD8,57 miliar, menjadi defisit terbesar sepanjang sejarah.

Sementara itu, dolar Amerika Serikat mengambil keuntungan dari melemahnya ekonomi Jerman, yang merupakan penopang Uni Eropa. Pertumbuhan ekonomi negara terbesar di Eropa itu, melambat menjadi 1,5% pada 2018. Merupakan pertumbuhan PDB paling lambat dalam lima tahun terakhir.

Melansir dari Reuters, indeks USD terhadap enam mata uang utama naik menjadi 96,009. Hasil ini membuat euro nestapa terhadap dolar AS menjadi USD1,141, merupakan level terendah selama lima hari. Poundsterling Inggris anjlok hingga 1,05% ke level USD1,272 karena ketidakpastian Brexit.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak