alexametrics

Neraca Perdagangan Defisit Bukti Kinerja Ekonomi Indonesia Memburuk

loading...
Neraca Perdagangan Defisit Bukti Kinerja Ekonomi Indonesia Memburuk
Ilustrasi defisit neraca perdagangan. Foto/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca perdagangan Indonesia periode 2018 mengalami defisit USD8,57 miliar. Realisasi neraca perdagangan Indonesia periode 2018 merupakan yang terburuk sejak Indonesia merdeka.

Ekonom Indef, Bhima Yudisthira, mengatakan neraca perdagangan yang terus defisit menunjukkan bahwa kinerja ekonomi Indonesia semakin memburuk. Ini disebabkan laju impor yang semakin tinggi yang membuat defisit neraca perdagangan terus meningkat.

"Pada kuartal IV 2018, defisit perdagangan dari Oktober-Desember 2018 ditotal mencapai USD4,86 miliar. Defisit ini lebih tinggi dibanding kuartal III 2018 sebesar USD2,6 miliar. Artinya kinerja perdagangan bukan semakin membaik tapi semakin memburuk," ujar Bhima saat dihubungi SINDOnews di Jakarta, Rabu (16/1/2019).



Menurutnya, besarnya impor terjadi disemua kelompok sepanjang tahun 2018, sehingga berkontribusi terhadap pelebaran defisit perdagangan. Total impor naik sebesar 20,15%. Sementara, impor bahan baku naik 20,06%, dipengaruhi oleh lonjakan impor untuk keperluan proyek infrastruktur Pemerintah.

Bahkan di bulan Desember, dimana biasanya permintaan bahan baku industri tidak optimal terpotong libur panjang, justru impor besi baja mencatat pertumbuhan 4,96%. "Besi baja pastinya untuk proyek infrastruktur. Artinya komitmen pemerintah untuk menunda proyek yang berkontribusi besar terhadap impor belum serius," katanya.

Sambung Bhima, impor barang konsumsi dalam setahun naik tinggi hingga 22%, padahal konsumsi rumah tangga hanya tumbuh dikisaran 5%. "Ini bisa dicek, apakah ada kontribusi dari maraknya e-commerce karena 93% produk e-commerce adalah barang impor," jelasnya.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak