alexametrics

Defisit Transaksi Berjalan Diperkirakan Tembus USD32 Miliar

loading...
Defisit Transaksi Berjalan Diperkirakan Tembus USD32 Miliar
Ilustrasi defisit transaksi berjalan (current account deficit). Foto/Istimewa
A+ A-
JAKARTA - Defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) diperkirakan menembus USD32 miliar sepanjang 2018. Perkiraan itu makin lebar jika dibanding capaian 2017 yang sebesar USD17,3 miliar.

Managing Director Political Economy and Policy Studies, Anthony Budiawan, mengatakan defisit neraca perdagangan saja sudah mencatatkan rekor terburuk. Sehingga, membuat investor pesimistis dengan kondisi ekonomi Tanah Air.

"Defisit USD8,6 miliar dan transaksi berjalan lebih dari USD32 miliar. Sebab, di kuartal IV-2018 diperkirakan defisit USD10 miliar, kuartal III-2018 sebelumnya defisit USD8,8 miliar," ujarnya di Jakarta, Rabu (16/1/2019).



Anthony menjelaskan, seolah kebijakan pemerintah tidak jalan dengan melebarnya defisit. Upaya meningkatkan ekspor dan menekan impor tidak kelihatan hasilnya.

"Program B20 belum jalan. Apalagi akan ditingkatkan jadi B30 mengganti BBM dengan CPO (Crude Palm Oil)," katanya.

Selain itu, Anthony menyampaikan, pada 2018 juga terjadi deindustrialisasi meski di kuartal IV-2018 terjadi penurunan harga minyak dunia hingga 30%. Namun, tetap saja masih mencatatkan defisit.

"Defisit masih berkelanjutan, bagaimana Januari (2019)? Harga minyak naik lagi dari USD52 per barel jadi diatas USD60 per barel, menekan defisit lagi," pungkasnya.

Semua hal tersebut dinilainya meningkatkan defisit transaksi berjalan dan menekan nilai tukar rupiah. Saat ini, Indonesia bergantung dari investasi portofolio asing dan jika mereka masuk maka rupiah menguat, begitu sebaliknya.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak