alexametrics

Pertumbuhan Kredit November 2018 Sentuh Level Tertinggi Lima Tahun

loading...
Pertumbuhan Kredit November 2018 Sentuh Level Tertinggi Lima Tahun
Bank Indonesia (BI) menyatakan, pertumbuhan kredit pada November 2018 yang tercatat sebesar 12,1% (yoy) merupakan angka tertinggi sejak lima tahun terakhir. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan, pertumbuhan kredit pada November 2018 yang tercatat sebesar 12,1% (yoy) merupakan angka tertinggi sejak lima tahun terakhir. Pada tahun 2015 pertumbuhan kredit hanya tumbuh sebesar 10,45%, lalu tahun 2016 tumbuh 7,8%, dan tahun 2017 tumbuh 8,2%.

"Tahun lalu pertumbuhan kredit merupakan pertumbuhan tertinggi sejak 5 tahun terakhir. Artinya, itu pertumbuhan kredit yang kita harapkan. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan atau NPL juga turun dari 2,66% menjadi 2,36%," kata Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto di Jakarta, Kamis (17/1/2019).

Sementara itu, loan at risk juga mengalami penurunan menjadi 9,23% dari 10,5%. Artinya, terjadi penurunan di kolektibilitas II. Menurut Erwin, ada beberapa sektor yang mendorong adanya pertumbuhan kredit tahun 2018 yakni industri pengolahan, perdagangan dan lain-lain.



Secara keseluruhan tahun 2019, BI memperkirakan pertumbuhan kredit berada dalam kisaran 10-12% (yoy). Ke depan, BI akan terus berkoordinasi dengan otoritas terkait guna turut menjaga stabilitas sistem keuangan, termasuk memantau kecukupan dan distribusi likuiditas di perbankan.

Sedangkan berdasarkan survei perbankan Bank Indonesia mengindikasikan, pada kuartal I-2019, pertumbuhan kuartalan (qtq) kredit baru diprakirakan melambat sesuai dengan polanya. Hal ini tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) permintaan kredit baru sebesar 50,0%, lebih rendah dibandingkan 71,7% pada kuartal sebelumnya.

"Responden menyampaikan bahwa prakiraan melambatnya pertumbuhan kredit pada kuartal I-2019 didorong oleh rendahnya kebutuhan pembiayaan nasabah pada awal tahun," ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman.

Prioritas utama responden dalam penyaluran kredit baru kuartal I-2019 adalah kredit modal kerja, diikuti oleh kredit investasi dan kredit konsumsi. Pada jenis kredit konsumsi, penyaluran kredit kepemilikan rumah/apartemen masih menjadi prioritas utama, diikuti oIeh penyaluran kredit multiguna dan kredit kendaraan bermotor.

Di sisi lain, kebijakan penyaluran kredit pada kuartal I-2019 diprakirakan lebih ketat, tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) sebesar 14,6%, lebih tinggi dari -1,4% pada kuartal sebelumnya. "Responden menyampaikan bahwa pengetatan penyaluran kredit terutama akan dilakukan terhadap kredit Investasi dan kredit modal kerja, sementara untuk kredit konsumsi (KPR/KPA dan kredit konsumsi lainnya) akan lebih longgar dan kuartal sebelumnya," papar Agusman.

Kepala Group Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan LPS Dody Arifianto menambahkan, pertumbuhan kredit diyakini akan terus membaik seiring dengan menguatnya aktivitas ekonomi domestik. Pada tahun 2019, kredit diprediksi tumbuh 12,4%. "Dengan perkembangan seperti ini, pengelolaan likuiditas merupakan salah satu hal terpenting yang perlu diperhatikan oleh bank-bank pada tahun ini," ujar Dody.

Adapun prospek BI 7-day reverse repo rate dan Fed rate yang kini lebih dovish mengindikasikan terbatasnya kenaikan bunga simpanan rupiah dan valas ke depan. Meski demikian, kondisi spesifik likuiditas di tiap kelompok bank dapat berimplikasi pada pergerakan suku bunga yang tidak seragam.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak