alexametrics

Produksi OPEC Turun Tajam di Desember Jelang Perjanjian Minyak Baru

loading...
A+ A-
LONDON - Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Dunia (OPEC) mengungkapkan, bahwa pihaknya telah memangkas produksi minyak secara tajam pada bulan Desember 2018, sebelum menerapkan perjanjian baru untuk membatasi pasokan berlaku. Hal ini menjadi sinyal positif, ketika OPEC membuat awal yang kuat pada tahun baru 2019 dalam upaya mencegah kelebihan pasokan semakin dalam.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (17/1) OPEC dalam laporan bulanan menerangkan, bahwa produksi minyak mereka telah mengalami penyusutan 751.000 barel per hari (bph) secara month on month di Desember karena kebijakan pengurangan produksi dipimpin oleh Arab Saudi, Libya dan Iran.

Berawal dari kecemasan penurunan harga minyak dunia serta meningkatnya pasokan global, OPEC dan sekutunya termasuk Rusia sepakat pada Desember untuk kembali meneruskan kebijakan pemotongan produksi di 2019. Mereka berjanji untuk menurunkan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari, di mana bagian OPEC mencapai sebesar 800.000 barel per hari.



Pengurangan pada bulan Desember tercatat menjadi, pemangkasan terebesar secara MoM dalam OPEC sejak Januari 2017. Ini berarti bahwa jika OPEC sepenuhnya menerapkan langkah baru per 1 Januari, itu akan menghindari menciptakan surplus di pasar yang dapat melemahkan harga minyak dunia.

Sementara itu OPEC memperkirakan, adanya perlambatan dalam permintaan minyak global meskipun lebih optimistis tentang dukungan dari sektor ekonomi sebulan lalu serta mengutip sentimen yang lebih baik di pasar minyak, saat harga telah rally kembali di atas USD60 per barel.

"Sementara risiko ekonomi tetap condong ke sisi negatifnya, kemungkinan moderasi dalam pengetatan moneter diperkirakan akan memperlambat tren pertumbuhan ekonomi yang tertahan pada 2019. Ini belum lama tercermin di pasar keuangan global. Efek positif pada sentimen pasar juga terlihat di pasar minyak," kata OPEC.

OPEC menyakini, permintaan minyak mentah pada 2019 akan turun menjadi 30,83 juta barel per hari, turun 910.000 barel per hari dari 2018. Hal ini lantaran saingan memompa lebih banyak dan ekonomi yang melambat membatasi permintaan. Angka tersebut turun sekitar 600.000 barel per hari untuk mencerminkan keluarnya Qatar dari OPEC.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak