alexametrics

Unicorn Dikuasai Asing, Pemerintah Jangan Hanya Fokus Buka Investasi

loading...
Unicorn Dikuasai Asing, Pemerintah Jangan Hanya Fokus Buka Investasi
Penguasaan asing kepada empat perusahaan rintisan atau startup Indonesia dinilai karena pemerintah hanya fokus membuka investasi asing sebesar besarnya. Foto/Ilustrasi
A+ A-
JAKARTA - Perusahaan start-up Indonesia seperti Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka telah menjelma menjadi unicorn, namun perlahan kini mulai dikuasai asing. Kucuran dana besar-besaran dari berbagai investor raksasa mancanegara membuat kepemilikan empat perusahaan rintisan atau startup Indonesia sudah tidak bisa dibanggakan.

Executive Director of Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan, empat perusahaan Start-up dikuasai asing jelas itu sudah melanggar cita-cita awal pemerintah untuk menjadikannya sebagai usaha Indonesia. "Jadi nggak ada lagi kebanggan, sebelumnya kan sering digembar-gemborkan kita memiliki 4 unicorn bahkan ada yang decacorn," tutur Heru kepada SINDOnews di Jakarta, Senin (28/1/2019).

Belum lama ini Go-jek baru-baru ini menerima kucuran dana dari Google sebesar USD1,2 miliar. Hal ini menjadikan valuasi Go-Jek saat ini ditaksir mencapai USD4 miliar atau lebih dari Rp53 triliun. Kondisi tersebut, diterangkan jelas merugikan dan pemerintah dinilai hanya fokus membuka investasi asing sebesar besarnya yang bersifat jangka pendek saja.



"Jangka panjang merugikan bagi iIndonesia. Ini artinya kita gagal menghasilkan dan mempertahankan startup hingga juga unicorn agar tetap menjadi milik indonesia," tegas Heru.

Lebih lanjut, Ia mengutarakan tak sependapat dengan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara yang menilai pola pikir bahwa pendanaan investor serta merta menjadikan unicorn lokal dikuasai asing sebagai pola pikir konvensional. "Jadi ada yang salah dengan pembinaan startup di Indonesia," tandasnya.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak