alexametrics

Fintech Berperan Atasi Gap Kredit di Indonesia

loading...
Fintech Berperan Atasi Gap Kredit di Indonesia
Ketua Harian Asosiasi Fintech Indonesia Kuseryansyah, Direktur Asetku Andrisyah Tauladan, dan Director of Corporate Affairs and Public Relations Akulaku Indonesia Anggie Setia Ariningsih (Kiri ke kanan). Foto/Nuriwan
A+ A-
JAKARTA - Asosiasi Fintech Indonesia mengungkapkan, berdasarkan data dari Bank Dunia terdapat jurang pemisah (gap) kredit cukup besar di Indonesia yang jumlahnya mencapai Rp1.000 triliun. Gap ini terjadi karena tidak seimbangnya antara kebutuhan kredit masyarakat dengan kemampuan institusi keuangan menyuplai kredit.

“Kondisi ini terjadi karena akses masyarakat ke sektor perbankan masih terhambat dengan aturan persyaratan yang ketat dari institusi keuangan konvensional seperti perbankan. Kondisi ini terjadi karena banyak masyarakat yang butuh pinjaman (kredit), namun unbankable alias tidak memenuhi syarat untuk pinjam ke bank,” kata Ketua Harian Asosiasi Fintech Indonesia Kuseryansyah dalam konferensi pers yang digelar Akulaku.com, di Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Menurutnya salah satu terobosan yang bisa dilakukan untuk memperkecil gap kredit tersebut adalah dengan akses keuangan digital, financial technologi (fintech). Sebelum hadirnya fintech, terang Kuseryansyah bahwa kondisi inklusi keuangan Indonesia berada di kisaran 30-40% saja.



“Baru setelah hadir fintech, salah satunya adalah Akulaku.com, inklusi keuangan di Indonesia bisa bergerak naik 10-15%. Sehingga inklusi keuangan di tanah air menjadi 49%, lalu pada tahun 2018 kemarin naik lagi jadi 60%. Pemerintah menargetkan akhir 2019 ini inklusi keuangan meningkat jadi 75%,” jelas dia.

Posisi inklusi keuangan Indonesia masih tertinggal bila dibandingkan dengan India yang mencapai 85% dan China 95%. Maka guna mengejar ketertinggalan ini, salah satu jalan adalah menggenjot sektor fintech di Indonesia. Ada pun saat ini masyarakat Indonesia yang adaptif dan menggunakan fintech di telepon selulernya baru mencapai 10%. Berbeda dengan kondisi di India yang mencapai sekitar 50% dan China hingga 59%.

“Transaksi keuangan peer to peer (P2P) fintech di Indonesia pada tahun 2018 kemarin tercatat mencapat Rp22 triliun. Jumlah ini bisa melesat lebih tinggi lagi apabila Indonesia bisa menerapkan digital ID di KTP sebagai dasar data transaksi fintech. Di sejumlah negara digital ID sudah diterapkan tapi di Indonesia belum,” papar Kuseryansah.

Dia mengakui perusahaan fintech seperti Akulaku.com turut berperan dalam mendongkrak inklusi keuangan di tanah air. Yakni memberikan fasilitas pinjaman dana kepada masyarakat yang membutuhkan tanpa harus diberatkan dengan persyaratan perbankan.

Sementara itu, Director of Corporate Affairs and Public Relations Akulaku Indonesia Anggie Setia Ariningsih mengatakan, bahwa hingga akhir tahun 2018, Akulaku telah diunduh oleh lebih dari 15 juta masyarakat Indonesia yang tersebar di seluruh Jawa, Medan, Palembang dan Padang.

“Tahun 2018 merupakan tahun yang baik bagi kami. Pertumbuhan kami di tahun 2018 membuktikan respon masyarakat yang sangat positif terhadap solusi layanan keuangan yang kami tawarkan. Di 2019 sendiri, kami menargetkan pertumbuhan penyaluran dana mencapai 300% serta peningkatan pengguna hingga 2-3 kali dengan berbagai inovasi layanan baru di berbagai sektor yang secara bertahap akan kami luncurkan,” kata Anggie.

Berdasarkan hasil riset berjudul “Fintech Report 2018” yang dirilis DailySocial.id melaporkan sebesar 49% responden memilih Akulaku sebagai aplikasi favorit mereka. Pencapaian ini pun sejalan dengan pertumbuhan Akulaku di tahun 2018 yang tumbuh lebih dari 300% dengan jumlah kredit yang disalurkan mencapai sekitar Rp9,8 triliun.

Sebagai bentuk komitmennya dalam mendukung inklusi finansial, Akulaku juga memperkenalkan bagian dari perusahaannya yang bergerak di bidang Peer-to-Peer Lending (P2P), PT Pintar Inovasi Digital (Asetku). Perusahaan yang telah mendapatkan tanda terdaftar dan diawasi langsung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini mempertemukan pemberi pinjaman (Lender) dengan peminjam (borrower) terpercaya.

Direktur Asetku Andrisyah Taula dan mengatakan, pengembalian dana pokok dan bunga kepada para pemberi pinjaman selalu mencapai 100%, menjadikan Non-Performing Loan (NPL) perusahaan masih 0,00%. “Sejauh ini pengembalian dana pokok dan bunga kami kepada para pemberi pinjaman selalu 100% dengan rata-rata portfolio per bulan sekitar Rp50 miliar-100 miliar tiap bulan. Tahun 2019 ini, kami menargetkan penyaluran pinjaman hingga Rp500 miliar setiap bulan,” ungkapnya.

Asetku melakukan diversifikasi pendanaan dengan menyebarkan dana pemberi pinjaman kepada peminjam untuk meminimalisasikan risiko pendanaan. Keuntungan untuk pendana adalah bunga tahunan mencapai 20-24%.
(akr)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak