alexametrics

Baju Kerja: "Going Casual"

loading...
Baju Kerja: Going Casual
Yuswohady, Managing Partner, Inventure www.yuswohady.com. Foto/Ist
A+ A-
Note: Menyongsong peluncuran buku saya, Millennials Kill Everything (Gramedia Pustaka Utama, 2019), dalam beberapa minggu ke depan saya akan menulis beberapa produk, industri, atau apa pun yang "dibunuh" oleh milenial.

Kali ini adalah "baju kerja". Milenial menjadi trend-setter kalau untuk urusan pakaian di tempat kerja (outfit atau workwear). Mereka adalah generasi percaya diri yang selalu menginginkan otentisitas, individualitas, dan ekspresi diri.

Jangan lupa, mereka juga setiap saat melakukan personal branding melalui penampilan sehari-hari mereka yang salurkan melalui beragam outlet digital seperti Instagram atau Snapchat. Bagi milenial, tempat kerja adalah bagian inheren dari ruang berekspresi untuk menunjukkan siapa mereka.



Beralasan karena setidaknya delapan sampai sembilan jam, lima hari seminggu, waktunya dihabiskan di tempat kerja. Untungnya, milenial memiliki "cool factor" yang mewakili semangat zamannya. Apa-apa yang berbau milenial selalu punya citra "cool" dan "zaman now ".

Makanya tak heran jika ekspresi diri yang dituangkan dalam baju kerja di kantor ini kemudian mewabah dan diikuti seluruh kantor di Tanah Air, bahkan di seluruh dunia. Perusahaan yang masih menerapkan gaya berpakaian zaman old pun serta-merta mengubah aturan berpakaian di tempat kerja ala milenial agar terlihat bercitra "milenial" dan "zaman now".

Maka, tak terhindarkan lagi milenial pun membunuh model baju kerja formal (zaman old) yang sudah menjadi standar di era Gen-X dan Baby Boomers. Kehadiran generasi milenial telah mengakhiri era formalitas baju kantor.

Selama era Gen-X dan Baby Boomers, baju kerja begitu formal, seragam, monoton, dan tentu boring: kemeja polos, dasi, celana kain dengan garis setrikaan yang necis, dan sepatu pantofel. Di era milenial semua itu didisrupsi total.

Outfit kantor ala milenial menjadi kian kasual, menekankan kenyamanan (2C: comfortable+convenient ), kepraktisan, dan fleksibilitas untuk berbagai occasion , tetap fun dan fashionable , dan tentu mencerminkan ekspresi dan identitas diri pemakainya. Casual dress code becomes the new normal.

And outfit becomes the extension of millennialís personality. Tipikal baju kerja ala milenial ini ditandai dengan kemeja santai (bercorak, tak mesti polos), t-shirt , celana jins atau denim, hoodie , sweater /kardigan, parka, dan blazer semiformal. Untuk sepatu favoritnya adalah sneakers , tak harus sepatu high heel untuk wanita.

Awalnya gaya pakaian milenial ini hanya ada di perusahaan-perusahaan startup. Inspirasinya tak lain adalah gaya baju kasual ala entrepreneurs di Silicon Valley. Posterchild nya tak lain adalah Steve Jobs dengan sweater turtle neck hitam, celana jins, dan sneakers New Balance yang kemudian diperbarui dengan gaya baju Mark Zuckerberg dengan t-shirt abu-abu yang simpel dan fungsional.

Tren ke arah baju kerja yang semakin kasual ini kemudian meluas tak hanya di kalangan perusahaan startup , tapi juga di perusahaan-perusahaan apa pun besar maupun kecil. Yang terjadi kemudian, perusahaan yang ingin dianggap perusahaan zaman now dan millennial -friendly serta-merta mengadopsi gaya baju kerja milenial yang kasual.

Tren "going casual" ini terlihat jelas di industri perbankan. Sebelumnya baju kerja di industri perbankan dikenal sangat formal dan konservatif: kemeja polos, dasi necis, celana bahan gelap, kaos kaki gelap, dan sepatu pantofel gelap.

Namun, kini kebijakan outfit kantor di kalangan karyawan bank semakin dibebaskan, kecuali memang untuk petugas front liners seperti customer service atau teller yang tetap memakai seragam. Karyawan bank sekarang bisa bebas menggunakan batik, kemeja bermotif, celana jins dan denim, serta sepatu sneakers .

Pertanyaannya, kenapa kehadiran generasi milenial memunculkan tren "going casual" dalam cara berpakaian di kantor? Pergeseran outfit kantor tak lepas dari perubahan-perubahan yang terjadi di tempat kerja seiring masuknya generasi milenial dan maraknya ekonomi digital yang menyertainya.

Waktu kerja bergeser ke arah fleksibilitas; jenis dan tipe pekerjaan berubah semakin knowledge-based dan digital-based ; begitu pun interaksi di tempat kerja lebih banyak melalui e-mail , WA, voice call , atau video call dibandingkan interaksi fisik.

Kini bekerja juga semakin mobile , tidak selalu hadir secara fisik di kantor. Tak heran jika coffee shop , kafe, atau mal menjadi spot kerja yang kian ramai dikunjungi karyawan milenial. Milenial ingin bekerja bukanlah sesuatu yang membosankan dan menimbulkan stres.

Selama bekerja mereka ingin tetap bisa ngopi , mendengarkan musik, atau jeda sebentar untuk main games online . Milenial tak hanya menginginkan work environment, tapi juga playing environment dan living environment di kantor.

Kenapa? Karena mereka menuntut work-life balance yang lebih manusiawi. Tak heran jika kini makin tempat kerja yang mengusung format bersuasana rumah (homy ) di mana work, play, live berjalan seiring.

Tempat kerja mulai menyediakan meja biliar, makan siang di kantin gratis, atau rutin menyelenggarakan pesta ice cream . Dengan pergeseran format tempat kerja, maka outfit kantor pun bergeser dari business outfit, mengarah ke business casual outfit, dan akhirnya ke casual outfit. Tren ke arah going casual ini tak lepas dari fenomena yang disebut "Red Sneakers Effect".

Sejumlah peneliti Harvard menemukan bahwa orang yang mengenakan sesuatu yang nyleneh di tempat kerja (misalnya mengenakan sneakers merah, jins, atau t-shirt di tengah karyawan lain yang menggunakan pakaian formal) justru dipersepsi lebih positif oleh para koleganya. Ia dipersepsi memiliki status lebih tinggi, lebih konfiden, lebih kompeten, dan lebih otoritatif, ketimbang mereka yang berpakaian formal.

YUSWOHADY
Managing Partner Inventure www.yuswohady.com
(fjo)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak